SEMARANG, beritajateng.tv – Bagaimana rasanya berkenalan dengan calon pasangan tanpa mengetahui wajahnya terlebih dahulu? Pertanyaan itu bisa terjawab saat seseorang mencoba blind date atau kencan buta.
Antara menaruh harapan dan penasaran, 20 orang yang tidak saling kenal mencoba peruntungan baru dalam kisah baru. Mereka mengikuti Exclusive Blind Date di Grand Candi Hotel Semarang.
Suasana itu bertambah sendu dengan lampu temaram dengan pemandangan city light Kota Semarang. Terdapat 10 pasang orang asing yang duduk berhadapan untuk saling mengenal.
Ada satu hal yang membuat makan malam itu tak seperti kencan pada umumnya. Para peserta belum boleh melihat wajah orang yang duduk di hadapannya.
Konsep Perkenalan Bukan Berdasarkan Penampilan
Suasana perkenalan berbeda sejak awal. Peserta laki-laki dan perempuan terlebih dahulu berada pada tempat yang berbeda. Kemudian mereka mengenakan penutup mata sebelum bertemu dengan pasangan masing-masing.
Mereka datang tanpa mengetahui siapa yang akan duduk di hadapannya. Bahkan, nama maupun kontak calon pasangan juga belum mereka salinghketahui sebelum acara berlangsung.
BACA JUGA: Menjelajah Heritage Food Festival di Gang Warung Pecinan Semarang, Kuliner Lawas hingga Pernak-pernik jadi Buruan
Defa, PIC Semarang kenal.id yang menjadi penyelenggara acara tersebut, mengatakan konsep tersebut memang sengaja dibuat agar peserta tidak langsung menilai calon pasangan berdasarkan penampilan.
“Ketika ngobrol itu enggak langsung lihat fisik. Karena biasanya kalau kita ngobrol sama orang, lihat fisiknya dulu bisa membuat obrolan kita terpengaruh,” kata Defa.
Dengan mata tertutup, dua orang asing mulai saling memperkenalkan diri. Suara menjadi petunjuk pertama untuk mengenali sosok yang berada di hadapan mereka.
Pemilihan Pasangan Acak Berdasarkan Algoritma
Meski peserta tidak mengetahui siapa yang akan ditemuinya, pasangan dalam blind date tersebut bukan dipilih secara acak.
Sebelum acara, setiap pendaftar mengisi formulir di situs kenal.id. Data yang dikumpulkan mencakup usia, agama, jenis kelamin, minat, pekerjaan, dan sejumlah informasi lainnya.
Data tersebut kemudian diproses menggunakan sistem penilaian untuk melihat tingkat kecocokan antarpeserta.





