SEMARANG, beritajateng.tv – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan langkah politik penting dengan membuka ruang dialog bersama kelompok kritis dan aktivis, terutama dari kelompok Indonesia Gelap.
Setelah bertemu para jurnalis, Prabowo menyampaikan keinginan untuk melakukan dialog dan mendengar langsung suara masyarakat yang merasa kondisi Indonesia belum sepenuhnya baik.
Langkah itu beroleh tanggapan dari pengamat politik Adi Prayitno dalam kanal YouTube-nya, Adi Prayitno Official, pada Kamis, 10 April 2025.
Menurutnya, hal itu bentuk komitmen Presiden untuk menjangkau aspirasi dari semua kalangan, termasuk pihak yang selama ini kerap mengkritik pemerintah.
“Kalau ini dilakukan, saya kira Indonesia akan jadi negara besar,” kata Adi.
BACA JUGA: Soroti Ketegangan Jokowi dan PDIP, Pengamat Adi Prayitno: Gesturnya Kini Beda, Ada Amarah Tersirat
Ia menilai dialog dengan aktivis dan kelompok kritis bisa memperkuat fondasi kebangsaan. Adi juga menyentil soal realitas di lapangan, termasuk persoalan gizi buruk dan ketimpangan ekonomi.
“Banyak anak di desa yang kelihatannya umur 5 tahun, padahal sebenarnya 10 tahun, hanya karena kekurangan gizi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya pemerintah mendengar kritik sebagai bahan introspeksi.
“Kalau ada yang bilang Indonesia tidak baik-baik saja, itu harus direspons. Bukan disalahkan, tapi dicari solusinya,” ucapnya.
Adi menyebut, sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil harus jadi acuan pembangunan ke depan.
BACA JUGA: Geger DPR RI Gelar Rapat RUU TNI di Hotel Mewah, Pengamat Adi Prayitno: Efisiensi Sekadar Jargon
“Membangun Indonesia bukan cuma tugas elit. Ini urusan semua warga negara,” tegasnya.
Ia pun mengangkat isu PHK massal dan lambannya pengangkatan PNS sebagai contoh nyata keresahan masyarakat.
“Itu bentuk bahwa Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja,” tutur Adi.
Dengan mendengarkan dan merespons suara rakyat, menurut Adi, pemerintah akan lebih tepat dalam mengambil kebijakan.
“Sudah saatnya keputusan politik tidak lagi datang dari langit, tapi dari realitas masyarakat bawah,” pungkasnya. (*)





