Produksi Alat Kesehatan Karya Dalam Negeri Terus Didorong Pemerintah

Pameran Kemandirian Alat Kesehatan

SEMARANG, 28/6 (BeritaJateng.tv) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah berkomitmen untuk terus mendorong produksi alat kesehatan (alkes) dari dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh Sekda Prov Jateng Sumarno di sela pameran alat kesehatan dan talk show Kemandirian Alkes: Realisasi atau Ilusi yang digelar Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia di Semarang, Senin (27/6).

Menurut Suwarno, pameran Alkes ini sangat penting untuk mempromosikan alkes yang diproduksi oleh produsen dari dalam negeri.

Pemerintah akan terus mendorong pemenuhan alkes dengan produk dalam negeri karena selama ini didominasi produk-produk impor.

“Ajang ini penting untuk mengenalkan produk yang sudah diproduksi dalam negeri karena selama ini kurang sosialisasi. Ini juga bisa menjadi bussiness matching antara produsen, distributor dan user terutama rumah sakit atau Puskesmas,” terangnya.

Pemerintah, imbuhnya, telah memberikan ketetapan terkait pengadaan barang dan jasa sebesar 40 persen dari total anggaran pemerintah daerah.

Pemprov Jateng juga selalu melaporkan ke pemerintah pusat untuk besaran serapan anggaran atas pemenuhan produk dalam negeri ini.

“Tidak hanya alkes, tapi juga produksi obat dari dalam negeri. Masak tempat tidur pasien saja harus impor?” imbuhnya gusar.

Sekda Sumarno secara bangga juga mengapresiasi inovasi produk alat kesehatan hingga pembuatan kaki palsu, tangan robotik dan juga bed dari dalam negeri dengan komponen lokal.

“Bahkan untuk produksi tangan robotik sudah dimanfaatkan melalui BPJS Ketenagakerjaan yang sangat inovatif dan bermanfaat. Jika memang ada bahan baku yang masih impor, setidaknya komponen lokalnya bisa ditingkatkan prosentasenya,” tandasnya.

Wakil Rektor IV Undip Prof Ambariyanto menegaskan selama ini pihaknya selalu melakukan kerjasam penelitian dengan rumah sakit yang membutuhkan alat tertentu.

Adapun pendanaan, berasal dari banyak pihak termasuk dari Undip yang menyiapkan dana riset hingga Rp100 miliar per tahun.

“Adapun peran rekan-rekan Gakeslab ini adalah sebagai hilirasi hasil riset perguruan tinggi. Kami yang mengembangkan risetnya, Gakeslab yang memasarkan dan memproduksi secara massal,” imbuhnya.

Prof Ambar mengakui, dengan memanfaatkan komponen lokal, biaya produksi alat kesehatan ini bisa jauh lebih murah.

“Misalkan kita lihat tadi tempat tidur, ternyata semua impor. Padahal sangat mungkin kita buat sendiri dengan komponen lokal dengan TKDN yang lebih banyak karena paling hanya masalah mekanik bukan inovasi khusus yang butuh elektronika khusus,” pungkasnya. (Ak/El)

Leave a Reply