Kesehatan

Ada 112 Kasus dan 3 Meninggal Akibat DBD di Kota Semarang, Dinkes: Angka Turun, Wolbachia Dinilai Efektif

×

Ada 112 Kasus dan 3 Meninggal Akibat DBD di Kota Semarang, Dinkes: Angka Turun, Wolbachia Dinilai Efektif

Sebarkan artikel ini
Dinkes Semarang Terbitkan 78 Ribu Rekomendasi Reaktivasi PBI Jaminan Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Semarang, M. Abdul Hakam. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat ada 112 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang bulan Januari hingga Juni 2025. Rinciannya, 80 penderita laki-laki dan 32 perempuan.

Dari kasus itu, tiga orang meninggal akibat penyakit yang berasal dari nyamuk Aedes aegypti.

Kadinkes Kota Semarang, M Abdul Hakam mengatakan, meskipun kasus kematian akibat DBD masih terjadi. Jumlah kasus DBD secara keseluruhan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dalam periode yang sama.

“Tahun ini ada 112 kasus, sementara tahun lalu pada periode yang sama mencapai sekira 148 hingga 150 kasus,” sebut Hakam, Selasa, 1 Juli 2025.

BACA JUGA: Video Angka DBD Kota Semarang Tembus 231 Kasus

Hakam mengklaim, penurunan kasus ini tak lepas dari upaya intensif surveilans vektor yang Dinas Kesehatan lakukan.

Langkahnya dengan pemeriksaan nyamuk yang rutin di berbagai wilayah. Termasuk pengambilan sampel nyamuk untuk di uji apakah mengandung virus dengue atau tidak.

“Kalau ada temuan positif, maka perlu ada pemeriksaan PCR dua sampai tiga kali dalam seminggu selama tiga sampai empat pekan berturut-turut,” jelasnya.

Sementara itu, dia menambahkan, salah satu strategi yang menurutnya efektif dalam pengendalian kasus DBD adalah penerapan teknologi Wolbachia.

Dengan memanfaatkan bakteri wolbachia untuk menghambat replikasi virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

“Empat kecamatan sudah kami evaluasi, yakni Kecamatan Banyumanik, Tembalang, Ngaliyan, dan Gunungpati mengalami penurunan signifikan. Bahkan di beberapa wilayah kasus bisa turun dari 100 menjadi di bawah 10,” klaimnya.

Namun dia menyebutkan jika tantangan masih ada. Program intervensi di nilai belum bisa menjangkau seluruh wilayah Kota Semarang akibat keterbatasan anggaran.

Ia menyebut, saat ini, baru 37 kelurahan dari 12 kecamatan tambahan yang masuk dalam program penanganan.

Lebih lanjut, Hakam menerangkan perluasan wilayah intervensi Wolbachia masih dalam tahap pembahasan dengan Kementerian Kesehatan.