SEMARANG, beritajateng.tv – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah kini menghadirkan tantangan tersendiri bagi peternakan lokal. Kebutuhan protein hewani tinggi dalam program ini menuntut penyerapan maksimal hasil peternakan, khususnya telur serta daging ayam.
Ign. Hariyanta Nugraha, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, menyampaikan bahwa MBG menyasar 9 juta orang.
Jumlah itu mencakup anak-anak TK hingga SMA, santri pondok pesantren, siswa madrasah, ibu hamil serta ibu menyusui.
BACA JUGA: Murid dan Guru SDN Gondoriyo Jambu Semarang Dukung MBG Tambah Susu: 4 Sehat 5 Sempurna
“Ini bukan hanya peluang, tapi juga tantangan bagi peternak di Jawa Tengah,” jelasnya dalam Diskusi Renja Disnakkeswan 2026 di gedung Deeamlight, Siwakul, Kabupaten Semarang, Kamis, 17 April 2025.
Menurut Hariyanta, kebutuhan protein hewani bisa terpenuhi dari hasil peternakan lokal. Setiap hari, butuh sekitar 9 juta butir telur atau setara 1.500 ton. Angka tersebut dapat disuplai oleh peternak Jawa Tengah, yang saat ini mengalami surplus produksi.
Telur serta daging ayam ras menjadi sumber protein paling ekonomis. Pilihan ini tepat untuk mendukung pelaksanaan MBG secara luas dan efisien di berbagai daerah.
BACA JUGA: Hore! 3,3 Ribuan Siswa di Kecamatan Jambu Semarang Sudah Menikmati MBG
Tak hanya dari sisi kebutuhan, sektor peternakan di Jawa Tengah juga memiliki potensi ekonomi luar biasa. Transaksi ayam ras pedaging hidup setiap tahun mencapai lebih dari Rp14 triliun. Sementara transaksi produk ternaknya menembus angka Rp25 triliun.
Sedangkan untuk telur ayam ras, nilai transaksi ternak hidup melebihi Rp19 triliun per tahun. Produk olahannya bahkan menembus Rp27 triliun. Angka tersebut membuktikan kontribusi besar peternakan terhadap perekonomian masyarakat.
Dengan potensi melimpah ini, peternak diharapkan mampu memaksimalkan peluang dan menjawab tantangan program MBG demi peningkatan gizi masyarakat Jawa Tengah secara merata. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





