Jateng

Progres Perbaikan Gombel Lama Tembus 39 Persen, BBPJN Targetkan Jalan Beroperasi Agustus 2026

×

Progres Perbaikan Gombel Lama Tembus 39 Persen, BBPJN Targetkan Jalan Beroperasi Agustus 2026

Sebarkan artikel ini
jalan gombel lama
Jalan Gombel Lama yang ditutup karena proyek rekonstruksi jalan, Jumat, 29 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

“Kalau kemarin kami sampaikan tujuh bulan, terus sempat kami pakai planning yang empat bulan. Mudah-mudahan di empat bulan itu kalau kami bisa percepat,” tuturnya.

Bila target tersebut tercapai, kata Alfan, Jalan Gombel Lama 𝖽iperkirakan dapat kembali 𝖽igunakan masyarakat sekitar Agustus hingga awal September 2026.

“Iya, Insyaallah Agustus sampai awal September. Mohon doanya biar segera,” kata Alfan.

Bore Pile Sedalam 28 Meter Rampung Dipasang

Salah satu pekerjaan utama yang menjadi fokus dalam penanganan Jalan Gombel Lama ialah pemasangan bore pile atau pondasi tiang bor pada titik longsoran terbesar di sekitar kawasan Sendang Pengantin. Alfan mengatakan seluruh pekerjaan bore pile kini telah selesai 𝖽ilaksanakan.

“Ada 31 titik di sana. Alhamdulillah sudah selesai semua untuk bore pile penahan tanah,” ujarnya.

Adapun setiap bore pile memiliki kedalaman hingga 28 meter ke dalam tanah dan berfungsi sebagai pondasi utama bagi pembangunan 𝖽inding penahan tanah yang saat ini sedang 𝖽ikerjakan.

BACA JUGA: Dampak Proyek Jalan Gombel Lama, Warga Keluhkan Debu hingga Rumah Retak

“Panjangnya 28 meter ke dalam. Kami pasang tulangan, kami cor. Pondasinya sudah selesai semua, sekarang kami kerja di struktur dinding penahan tanah,” jelas Alfan.

Ia menambahkan, tinggi 𝖽inding penahan tanah yang 𝖽ibangun nantinya bervariasi antara dua hingga lima meter, menyesuaikan kondisi kontur lahan di lokasi proyek.

Temukan Aliran Air Tanah di Kawasan Sendang Pengantin

Dalam proses pengerjaan, tim BBPJN juga menemukan aliran air tanah cukup besar di kawasan Sendang Pengantin.

Meski demikian, Alfan menegaskan temuan tersebut tidak menjadi hambatan serius bagi proyek. Sebaliknya, keberadaan aliran air justru membantu tim teknis mengetahui sumber persoalan yang selama ini terjadi di lokasi.

“Begitu kami gali kan harus tahu posisi alirannya di mana. Begitu kami ketemu alirannya, malah kami enak. Oh, ini alirannya, langsung kami alirkan dan kami buatkan subdrain,” terangnya.