SEMARANG, beritajateng.tv – Empat anggota keluarga yang 𝖽itemukan meninggal di Glamping Posong, Kabupaten Temanggung, tidak menyadari sedang menghirup karbon monoksida sebelum akhirnya kehilangan nyawa.
Dokter forensik yang terlibat dalam penyelidikan mengungkap paparan karbon monoksida (CO) dalam kadar tinggi dapat menyebabkan kematian hanya dalam hitungan menit.
Kondisi tersebut 𝖽iperparah karena gas karbon monoksida tidak memiliki warna, bau, maupun rasa yang mudah manusia kenali.
Ahli Forensik RS Bhayangkara Polda Jawa Tengah, Dr. dr. Istiqomah, Sp.FM, mengatakan berdasarkan hasil autopsi dan pemeriksaan toksikologi, keempat korban meninggal akibat keracunan karbon monoksida yang menyebabkan mati lemas.
Istiqomah menuturkan, korban kemungkinan tidak menyadari sedang menghirup gas beracun tersebut saat berada di dalam tenda.
“Gas CO ini tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna,” ujar Istiqomah dalam konferensi pers di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 15 Juni 2026 sore.
Ia menjelaskan, berbeda dengan asap yang terlihat secara kasat mata, karbon monoksida tidak selalu menimbulkan sensasi tertentu pada tubuh yang dapat langsung memicu kewaspadaan korban.
“Untuk asapnya kelihatan, tetapi mungkin tidak 𝖽isadari bahwa itu CO. Karena tidak berbau yang menyengat, tidak berasa yang di tenggorokan jadi pahit, ya tidak,” jelasnya.
Dokter Ungkap Proses Mati Lemas Bisa Terjadi dalam Delapan Menit
Istiqomah mengungkap, proses kematian akibat kekurangan oksigen yang tergantikan karbon monoksida dapat berlangsung sangat cepat.
Menurut penuturannya, begitu karbon monoksida masuk ke dalam tubuh dan menggantikan fungsi oksigen dalam darah, korban akan mengalami serangkaian tahapan mati lemas yang berlangsung hanya dalam hitungan menit.
“Kalau mulai dari dia kekurangan oksigen yang 𝖽igantikan oleh CO, ini kurang lebih dalam hitungan menit,” katanya.





