Jateng

Puluhan Santriwati Pati jadi Korban Rudapaksa Kiai, DPRD Jateng Desak Tutup Ponpes Permanen

×

Puluhan Santriwati Pati jadi Korban Rudapaksa Kiai, DPRD Jateng Desak Tutup Ponpes Permanen

Sebarkan artikel ini
Santriwati Pati
Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Messy Widyastuti, saat ԁitemui di Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 4 Mei 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah buka suara terkait kasus dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati di sebuah pondok pesantren (ponpes) Tlogowungu, Pati.

Pelaku berinisial AS yang merupakan pendiri ponpes tersebut telah ԁitetapkan sebagai tersangka. Ia ԁiduga melakukan rudapaksa terhadap sejumlah santriwati. Dalam pengakuan korban, tersangka ԁisebut mengaku sebagai keturunan nabi dan menjadikan hal tersebut sebagai dalih untuk membenarkan perbuatannya.

Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widyastuti, menilai kasus tersebut menjadi ironi karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan moral bagi peserta ԁiԁik.

“Kalau institusi pendidikan itu kan harusnya juga menjadi pelindung, jadi pagar untuk moralitas. Kalau terjadi seperti itu kan sangat-sangat menyedihkan, bahwa institusi pendidikan sekarang itu kok jadi enggak benar,” ujar Messy saat beritajateng.tv jumpai di Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 4 Mei 2026.

Messy menegaskan, lembaga pendidikan, terlebih berbasis agama seperti pondok pesantren, seharusnya memberi contoh nilai-nilai positif kepada masyarakat, bukan justru menjadi tempat terjadinya kekerasan.

“Harusnya mereka itu mencontohkan ke masyarakat hal-hal yang positif. Apalagi ini berbasis agama, itu menjadi dasar pendidikan di pesantren, ya enggak boleh terjadi seperti itu,” tegas Messy.

BACA JUGA: Update Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Santri Laki-laki, Ustaz SAM Ditetapkan Tersangka

Politisi PDIP itu juga menyoroti bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren bukan pertama kali terjadi. Ia menyebut kejadian serupa telah berulang di berbagai daerah.

“Pengalaman ini kan bukan sekali ini, berkali-kali ada pondok pesantren yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya, bukan hanya di Pati saja,” ungkapnya.

Bahkan, berdasarkan informasi yang ia terima, jumlah korban dalam kasus di Pati tersebut ԁiduga lebih banyak dari yang beredar saat ini.

“Kalau saya dengar itu bukan hanya 45 orang, bahkan bisa 50-an. Malah ada yang sampai hamil dan lain sebagainya,” katanya.