Tak hanya menghadirkan moda transportasi baru, Maxride juga menjadi peluang ekonomi. Sistem kemitraan memungkinkan warga menjadi pengemudi dengan skema sewa unit yang cukup terjangkau. Banyak calon driver bahkan sudah masuk daftar tunggu.
“Banyak warga yang mendaftar jadi driver. Ini bukan hanya soal transportasi, tapi juga cara kami membuka lapangan kerja di Semarang,” lanjut Siva.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana bajaj kembali menjadi bagian dari gaya hidup. Di Semarang, Maxride tak hanya membidik penumpang harian, namun juga wisatawan maupun ibu rumah tangga yang membutuhkan transportasi aman untuk aktivitas sehari-hari.
Salah satu pengemudi bajaj asal Pedurungan, Kota Semarang, Adi Saputra (37), bercerita pengalamannya menarik penumpang sejak tiga hari terakhir. Ia menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan setelah bekerja di bidang elektronik pada pagi hari.
BACA JUGA: Khawatir Pemasukan Berkurang, Ojol-Sopir Angkot Semarang: Sudah Minim, Ngenes Kalau Ada Bajaj
“Saya biasanya mangkal di Semarang Timur, kalau di pusat kota sudah banyak bajaj. Sehari narik dari jam 11 siang sampai jam 9 malam, rata-rata dapat Rp285 ribu. Setor ke kantor Rp25 ribu. Kalau rame biasanya sore, sekitar jam 6,” ungkapnya sambil mengendarai bajaj.
Ia menambahkan, meski berbasis aplikasi, layanan Maxride juga tetap bisa dipesan secara offline dengan kesepakatan jarak. Bajaj yang digunakannya pun masih mempertahankan konsep klasik, dengan gigi di tangan kiri seperti vespa, sehingga memberi kesan retro.
“Rata-rata penumpang anak muda. Mereka suka karena bisa foto-foto juga, suasananya beda,” lanjut Adi.
Tarif layanan dipatok Rp14 ribu untuk 3 kilometer pertama, lalu selanjutnya penumpang dikenai Rp3 ribu per kilometer.
Setelah Semarang, perusahaan bajaj tersebut sudah menyiapkan ekspansi ke Solo pada Oktober 2025. Pemilihan lokasi ini lantaran kedekatan dengan pusat administrasi Jawa Tengah, sekaligus mempermudah pengembangan ke wilayah penyangga seperti Demak dan Kudus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





