SEMARANG, beritajateng.tv – Masih ramai di sosial media terkait kasus meninggalnya seorang balita akibat infeksi cacing gelang.
Cacing tersebut merupakan hewan parasit yang mampu hidup di usus bahkan berkembang biak menyerang organ lainnya apabila lambat penanganan.
Lalu, apa penyebab cacing ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia? Berikut akan kami bagikan informasi terkait penyebab dan cara mengatasinya.
Penyebab Ascariasis atau Cacing Gelang
Telur cacing gelang biasanya terdapat di tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia.
BACA JUGA: Karies Gigi Jadi Masalah Serius Anak Sekolah di Semarang, 36 Persen Sudah Terinfeksi
Karena itu, seseorang bisa tertular ascariasis jika menyentuh tanah tersebut tanpa mencuci tangan, atau melalui konsumsi buah serta sayuran yang tidak melalui proses pembersihan dengan baik.
Begitu masuk ke dalam tubuh, telur akan menetas di usus dan berkembang menjadi larva.
Dari sana, larva berpindah ke paru-paru lewat aliran darah atau sistem getah bening.
Setelah 10–14 hari berada di paru-paru, larva bergerak menuju tenggorokan. Pada fase ini, penderita bisa mengeluarkannya lewat batuk, atau justru menelannya kembali sehingga larva kembali masuk ke usus.
Larva yang kembali ke usus akan berkembang menjadi cacing jantan maupun betina, lalu bereproduksi.
Seekor cacing betina dapat tumbuh hingga sepanjang 40 cm dengan diameter sekitar 6 mm, serta mampu menghasilkan kurang lebih 200.000 butir telur setiap harinya.
BACA JUGA: Dua Ribu Lebih Perempuan di Jateng Idap Kanker Serviks, Dinkes Gencarkan Vaksinasi HPV
Sebagian telur akan dikeluarkan bersama feses dan mencemari tanah, sedangkan sebagian lainnya menetas, lalu berpindah ke paru-paru sebelum kembali lagi ke usus dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Seluruh siklus ini berlangsung sekitar 2–3 bulan.
Cara Mengatasi
Dalam beberapa kasus, ascariasis bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Namun, bila gejala muncul, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Langkah pengobatan utama biasanya berupa pemberian obat cacing, seperti pirantel pamoat, mebendazole, piperazine, atau albendazole, dengan dosis 1–3 kali dalam sehari.





