SALATIGA, beritajateng.tv – Bangku kelas VII dan kelas VIII SMPN 8 Salatiga banyak yang kosong pada kegiatan belajar hari ini, Senin, 8 Oktober 2025.
Pasalnya, ratusan siswa di sekolah tersebut diketahui tak masuk sekolah dan absen dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Selain usai mengikuti kegiatan perkemahan, berembus kabar mereka mengalami gejala keracunan setelah sebelumnya mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
MBG tersebut disajikan usai ratusan siswa SMPN 8 Salatiga tersebut pulang dari kegiatan perkemahan.
Kepala SMP Negeri 8 Kota Salatiga, Yohana Natallina Sari, yang dikonfirmasi mengatakan, jumlah siswa kelas VII dan kelas VIII total sebanyak 192 siswa
BACA JUGA: Muncul Penolakan Program MBG, Sudaryono: Tak Masalah, Bisa Alihkan ke Sekolah Lain
Oleh karena itu, pihak sekolah harus melakukan penelusuran dan memastikan mengapa ratusan siswa tersebut tidak masuk sekolah.
Dari penelusuran pihak sekolah, ratusan siswa tidak masuk lantaran sakit dan kebanyakan masih capai usai mengikuti kegiatan perkemahan.
Namun, penyebab banyaknya siswa yang sakit secara bersamaan tersebut yang butuh kepastian dan mendapatkan perhatian dari para guru di sekolah.
“Apakah itu karena MBG atau memang karena persoalan daya tahan tubuh yang belum fit,” jelasnya saat beritajateng.tv temui di SMP Negeri 8 Salatiga, Senin, 6 Oktober 2025 siang.
Dua siswa SMPN 8 Salatiga jalani rawat inap
Yohana juga menambahkan, dari 192 siswa yang tidak masuk sekolah hari ini, dua siswa di antaranya masih menjalani rawat inap.
Dari informasi awal yang ia terima, kedua siswa yang bersangkutan mengalami sakit diare dan saat ini sedang dalam proses pemulihan.
Yohana pun tak bisa memastikan apakah absennya ratusan siswa tersebut lantaran MBG yang sebelumnya sempat mereka konsumsi.
BACA JUGA: Antisipasi Kasus Keracunan MBG, Dinas Kesehatan Blora Intensifkan Inspeksi Dapur SPPG
“Untuk kepastian penyebab diare karena makanan MBG atau karena sebab lain, itu menjadi ranah petugas medis yang menangani,” tambahya.
Yohana menyampaikan, terkait siswa yang tidak masuk sekolah setelah mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah bukan hal yang baru.
“Tetapi dengan jumlah siswa yang tidak masuk begitu banyak, sekolah juga harus mengetahui apa penyebabnya,” tandas Yohana. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













