Didik mengatakan setiap operator memiliki kondisi dan kemampuan keuangan yang berbeda. Situasi itu membuat proses pemindahan kabel tidak dapat berjalan secara serentak.
“Ductingnya sudah. Cuma ini menyangkut beberapa operator dan kemampuan keuangan mereka berbeda-beda. Jadi enggak bisa,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan utama bukan semata-mata pekerjaan fisik untuk menurunkan kabel. Pemkot harus memastikan seluruh pemilik jaringan siap memindahkan kabel mereka ke infrastruktur bawah tanah yang telah tersedia.
“Kendalanya itu karena kabel itu milik beberapa operator, tidak hanya satu orang,” katanya.
Karena itu, Pemkot Semarang mendorong pertemuan dan koordinasi bersama para operator. Pemerintah ingin memastikan proses penataan berjalan dalam satu skema sehingga tidak ada operator yang tertinggal.
“Perlu duduk bersama, perlu bareng-bareng karena kemampuan mereka berbeda-beda. Ada yang sudah siap, ada yang belum siap,” tegas dia.
Penataan kabel menjadi pekerjaan penting karena jaringan udara yang semrawut tidak hanya berkaitan dengan estetika kota. Kabel yang menumpuk di sepanjang jalan juga menjadi bagian dari persoalan penataan utilitas perkotaan. (*)





