Gaya Hidup

Selain War Takjil, Begini Kisah Non Muslim Semangat Ikuti Tur Masjid Hingga Lihat Pembuatan Bubur India

×

Selain War Takjil, Begini Kisah Non Muslim Semangat Ikuti Tur Masjid Hingga Lihat Pembuatan Bubur India

Sebarkan artikel ini
Ramadan Umat
Dua umat Katolik, Vincentius dan Tata, saat mengunjungi Masjid Jami’ Pekojan dalam Peace Project yang diselenggarakan oleh GPYI Semarang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Bulan Ramadan bukan hanya momen penting bagi umat muslim untuk menunaikan ibadah puasa. Belakangan, umat nonmuslim pun turut antusias menyambut bulan suci. Pasalnya, mereka ambil bagian dalam war atau berburu takjil, bahkan sejak siang hari.

Di Kota Semarang, umat monmuslim ternyata tidak cukup hanya dengan ikut berburu takjil. Seperti halnya Vincentius Radya dan Maria Adnyana Dentang.

Dua umat Katolik itu tampak semangat mengikuti Peace Project di Masjid Jami’ Pekojan yang diselenggarakan oleh Global Peace Youth Indonesia (GPYI) Chapter Semarang.

Mereka tidak hanya berkeliling dan melihat langsung bangunan Masjid Jami’ Pekojan. Akan tetapi juga melihat langsung pembuatan bubur India yang menjadi ikon masjid ini tiap bulan Ramadan.

“Karena ini adalah akulturasi, toleransi juga, jadi bisa belajar hal baru, bisa kesini lihat langsung belajar langsung tentang masjid yang bersejarah ini,” kata Maria Adnyana Dentang kepada beritajateng.tv.

BACA JUGA: Tambah Saingan, War Takjil Juga Mahasiswa Internasional di Kota Semarang Ikuti, Begini Ceritanya

Tata sapaan akrabnya mengatakan, meski bukan pertama kali memasuki masjid, namun ia tetap terkesima dengan Masjid Jami’ Pekojan. Apalagi masjid ini merupakan campuran budaya antara Jawa, Arab, dan India.

Senada, Vincentius juga menyampaikan hal yang sama. Sebagai umat Katolik, ia ingin memelajari kultur umat Muslim, khususnya di bulan Ramadan.

“Momen Ramadan ini penuh berkah. Karena selain kita bisa mencicipi takjil, kita bisa berbagi berkah buat orang lain,” imbuhnya.

Meski tidak menjalankan ibadah puasa, keduanya mengaku mencoba mengimplementasikan simap toleransi dari momen bulan puasa ini. Yakni, tidak makan dan minum secara terang-terangan selama siang hari.

Layaknya umat nonmuslim lainnya, Vincentius dan Tata tentu juga war takjil. Gorengan dan es buah adalah menu favorit mereka. Padahal, dua menu itu bisa orang temukan dengan mudah di hari biasa.

“Rasanya lebih istimewa, ada sensasi ngantrinya, hectic-nya, terus kaya liat orang-orang lagi lemes, itu ada kesan tersendiri, seneng bisa ikutan meriahnya Ramadan,” kata Tata.

Ramadan bawa kebahagiaan untuk semua umat

Lebih lanjut, Peace Project merupakan salah satu program unggulan dari GPYI Semarang. Rangkaian terdiri dari tur, diskusi, melihat pembuatan bubur India, hingga refleksi.

Koordinator GPYI Semarang, Khalil Amirun, menyatakan, sudah seharusnya Ramadan dapat dinikmati oleh semua pihak. Begitu pula dengan kultur-kultur Islami yang bisa dipelajari oleh umat agama lain.

BACA JUGA: Kisah Mahasiswa Ghana Jalani Ramadhan di Semarang: Tidak Home Sick, Bakal Lebaran Virtual

GPYI Semarang sendiri rutin mengadakan kunjungan dan diskusi lintas agama. Selain masjid, mereka juga sering mendatangi gereja, klenteng, hingga vihara.

“Ramadan bukan cuma punya umat muslim, semua berhak menikmati Ramadan ini semua berhak berbahagia,” katanya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp