Tak ada yang berbeda dari penyelenggaraan tahun ini dengan tahun sebelumnya. Hanya saja, kata Adin, lokasi panggung bertempat di luar gang atau di sisi pinggir Jalan MT Haryono.
“Untuk rangkaian acara sebenarnya enggak terlalu berbeda. Ada band musik, topeng ireng, tari, dan lainnya,” katanya.
BACA JUGA: Bertahan di Tengah Modernisasi, Kampung Bustaman Simpan Beragam Tradisi Serta Cerita Legendaris
Ia menjelaskan tata cara Gebyuran Bustaman secara ringkas. Yang pertama, wajah warga dan pengunjung dicoret dengan cat air sebagai perlambangan dosa.
Kemudian mereka diarak sebagai perwujudan laku selama manusia hidup. Barulah kemudian seluruh dosa disucikan dengan disiram saat perang air.
“Antusias masyarakat, mereka sangat senang. Kalau bulan puasa kan bulan berkah bagi umat muslim. Jadi warga pada antusias,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





