Namun, karena beroleh tuntutan untuk mengikuti perubahan zaman, warung burjo kemudian menyediakan aneka menu tambahan. Misalnya seperti nasi goreng, nasi orak-arik, nasi ayam geprek, dan lainnya.
“Jaman dulu juga nggak nyediain nasi. Tapi karena sewa semakin mahal, harus tetap bertahan jadi apa aja yang bisa dijual,” katanya.
BACA JUGA: Mengunjungi Kedai Tarik Pa’Ngah, Kopitiam Anyar khas Melayu-Kalimantan di Kota Semarang
Adapun yang membuat burjo atau warmindo masih menjadi andalan anak kos hingga saat ini selain harganya yang terbilang murah adalah jam operasionalnya yang buka selama 24 jam penuh.
Di warung milik Hendri, misalnya. Ia total memiliki 5 karyawan yang terbagi ke dalam dua shift, yaitu siang dan malam. Sedangkan waktu paling ramai pengunjung adalah malam hari.
“Nggak pernah libur, tanggal merah bahkan lebaran buka terus, tutupnya paling kalau diusir,” ucapnya sembari tertawa. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





