Ia mengatakan cita-cita Prabowo itu telah tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pasal 33 UUD 1945 yang menekankan prinsip kerakyatan, kekeluargaan, serta pemanfaatan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Apa cita-cita Indonesia merdeka itu? Jelas termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila. Bahwa Indonesia itu menganut paham kerakyatan dan kekeluargaan, dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas juga menilai Indonesia mulai menjauh dari cita-cita tersebut sejak memasuki era pasar bebas pascareformasi.
Menurutnya, sistem tersebut membuat negara terlalu sedikit campur tangan sehingga pihak yang memiliki modal menjadi pihak yang paling ԁiuntungkan.
“Oleh karena itu, filosofi pasar bebas membuat pemerintah tidak boleh terlalu banyak ikut campur. Dalam pasar bebas, pasti pihak yang kuat yang menang. Siapa yang kuat? Yang kuat adalah yang punya uang,” paparnya.
BACA JUGA: Kritik KDMP di Depan Zulhas, Mahasiswa Unissula Ragu Kopdes Merah Putih Bisa Saingi Warung Madura
Ia mencontohkan dampaknya terlihat dalam politik hingga pengelolaan sumber daya alam yang ԁinilai semakin transaksional.
“Dalam pilkada, sehebat apa pun kita, kalau maju pilkada tidak punya uang, susah untuk menang. Pada akhirnya semua ini menjadi transaksional,”
Kondisi tersebut juga menyebabkan penguasaan sumber daya alam semakin terkonsentrasi pada kelompok tertentu sehingga kesenjangan ekonomi semakin lebar.
Zulhas menegaskan, pemerintah memilih mendorong swasembada pangan karena tidak sependapat dengan pandangan bahwa Indonesia cukup mengandalkan impor selama memiliki kemampuan membeli.
“Saya tidak setuju dengan pandangan itu. Sama dengan Pak Prabowo, kita harus swasembada pangan. Karena swasembada itu adalah soal kehormatan,” tuturnya.
Baginya, swasembada bukan sekadar memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga menyangkut martabat jutaan petani Indonesia.
“Kehormatan siapa? Kehormatan saya, kehormatan keluarga saya, dan kehormatan saudara-saudara saya di kampung, yaitu lebih dari 150 juta petani di Indonesia,” ucapnya.




