Dalam kesempatan itu, Zulhas mengungkap Indonesia mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras pada 2024.
Kondisi tersebut justru menguntungkan petani negara lain, sementara petani dalam negeri menghadapi berbagai persoalan mulai dari harga gabah yang rendah hingga sulit memperoleh pupuk.
“Kalau kita mengimpor beras—tahun 2024 saja kita mengimpor 4,5 juta ton beras—siapa yang untung? Yang untung adalah petani Thailand dan petani Vietnam. Sementara petani kita menderita,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang Zulhas sampaikan dalam paparannya, pemerintah menargetkan tidak mengimpor beras konsumsi maupun jagung pakan pada 2025 dan 2026.
Setelah mencatat impor beras sebesar 4,52 juta ton pada 2024, pemerintah mengklaim impor beras turun menjadi nol pada 2025 dengan surplus sekitar 4,2 juta ton, dan tetap nol pada 2026. Hal serupa juga ԁitargetkan pada impor jagung pakan yang turun dari 250 ribu ton pada 2024 menjadi nol pada 2025 dan 2026.
Di akhir pemaparannya, Zulhas juga menyoroti kondisi petani Indonesia yang menurutnya semakin tertekan selama hampir tiga dekade terakhir.
“Lama-kelamaan apa dampaknya? Setelah 29 tahun, petani Indonesia yang dulunya punya kebun dan sawah, sekarang kata BPS, 70 persen statusnya berubah menjadi buruh tani. Kalau mereka susah, ya sudah, tinggal ԁiberi bantuan. Padahal itu keliru,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




