SEMARANG, beritajateng.tv – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menuturkan dirinya bukan setia kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok, melainkan kepada perjuangan dan kebijakan yang ԁiyakini sejalan dengan cita-cita Indonesia merdeka.
Menurutnya, komitmen itu pula yang menjadi dasar pemerintah mendorong swasembada pangan. Pernyataan itu Zulhas sampaikan saat memberikan keynote speech dalam Musyawarah Nasional (Munas) BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) XIX 2026 di Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Semarang (Polines), Kota Semarang, Senin, 27 Juli 2026.
Zulhas mengawali pemaparannya dengan menceritakan perjalanan politik Prabowo yang tiga kali gagal dalam pemilihan presiden sebelum akhirnya terpilih pada Pemilu 2024. Menurutnya, banyak orang mempertanyakan alasan ԁirinya tetap bertahan bersama Prabowo.
“[Pak Prabowo] kalah terus, baru menang. Betul, baru kali ini menang. Tiga kali kalah, baru menang. Orang bertanya, kenapa kok betah? Saudara-saudara, kita setia kepada perjuangan. Kita setia kepada nilai-nilai yang kita perjuangkan. Kita setia kepada platform perjuangan bersama,” ucap Zulhas.
“Saya bukan setia kepada orangnya, tetapi kepada perjuangannya dan kebijakan-kebijakannya,” imbuhnya Zulhas.
Lebih lanjut, Zulhas mengaku telah mengenal pemikiran Prabowo sejak hampir 20 tahun lalu. Saat itu, ia mengaku banyak berdialog dan membaca buku-buku Prabowo hingga menilai gagasan yang ԁibawa memiliki kesamaan dengan cita-cita Indonesia merdeka.
“Hampir 20 tahun yang lalu, saya berdialog intensif dengan Pak Prabowo dan membaca buku-bukunya. Saya beranggapan dan menilai bahwa pikiran-pikiran serta kebijakan-kebijakan beliau itu sama dengan cita-cita Indonesia merdeka,” akunya.
BACA JUGA: Zulhas Blak-blakan Usul Sudaryono Pimpin BGN: Masih Muda, Target Bereskan Masalah MBG Dua Bulan
Prabowo, kata Zulhas, ingin mengembalikan arah pembangunan nasional sesuai dengan semangat yang ԁicita-citakan para pendiri bangsa.
“Beliau ingin meluruskan kembali perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta. Yang kami nilai, setelah 29 tahun reformasi, kita mulai berjalan terlalu jauh dari cita-cita Indonesia merdeka,” tutur Zulhas.




