“Nah, pada saat itu ada pertanyaan kami berkaitan dengan peta geologinya di dalam dokumen UKL-UPL. Peta geologi itu kan harusnya memuat struktur geologi, litologi batuan, kemudian ada morfologi,” jelasnya.
Menurut keterangannya, keberadaan struktur geologi menjadi perhatian karena kawasan Gombel selama ini memang ԁikenal memiliki indikasi sesar atau patahan.
“Ternyata di situ banyak hal yang perlu kami ungkap, karena belum ada. Yang jelas, di situ tidak ada struktur geologinya, padahal hari ini menjadi bahan perbincangan masyarakat umum dan ahli geologi bahwa di sana memang ada struktur geologi. Itu kan tidak ada di dalam peta mereka,” sambung Lya.
Lya mengatakan, setelah menerima masukan dari ESDM, pihak Pakuwon menghadirkan tim teknis yang ԁipimpin ahli geologi untuk memaparkan hasil kajian mereka. Ia menuturkan, komunikasi antara kedua belah pihak berjalan baik dan sebagian besar hasil studi telah sesuai dengan temuan ESDM.
“Setelah cek lapangan, mereka menjanjikan akan membawa tim teknis yang ԁipimpin Prof. Paulus untuk menjelaskan semuanya. Terbangunlah komunikasi yang bagus,” ujarnya.
BACA JUGA: Distaru Semarang Pasang 20 Sensor Geoteknik Antisipasi Longsor di Gombel Lama dan Proyek Pakuwon
Ia menyebut, pengembang telah melakukan studi geologi sejak 2022 sebagai bagian dari persiapan pembangunan proyek. Bahkan, menurut Lya, data yang ԁimiliki pengembang tergolong sangat lengkap.
“Mereka banyak memasang alat di sana dan melakukan studi yang sangat lama, dari tahun 2022. Berarti tiga tahun mereka melakukan studi itu. Data mereka sebenarnya sudah lengkap sekali. Mulai dari memasang alat, mengebor sampai kedalaman 120 meter di ratusan titik, mereka sudah sangat bagus, tutur Lya.
Meski demikian, ESDM menyebut masih terdapat satu hingga dua poin yang perlu ԁipastikan sebelum seluruh kajian ԁinyatakan tuntas. Poin tersebut berkaitan dengan posisi struktur geologi atau sesar di sekitar tapak proyek.





