Jateng

Distaru Semarang Pasang 20 Sensor Geoteknik Antisipasi Longsor di Gombel Lama dan Proyek Pakuwon

×

Distaru Semarang Pasang 20 Sensor Geoteknik Antisipasi Longsor di Gombel Lama dan Proyek Pakuwon

Sebarkan artikel ini
Distaru Semarang Pasang 20 Sensor Geoteknik Antisipasi Longsor di Gombel Lama dan Proyek Pakuwon
Sidak Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang ke proyek nasional Jalan Gombel Lama dan Superblock Pakuwon Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Tata Ruang memperkuat pengawasan stabilitas lereng di kawasan Gombel Lama seiring berlangsungnya perbaikan jalan nasional dan proses pematangan lahan proyek kawasan komersial Pakuwon.

Langkah ini untuk memastikan keamanan lingkungan sekaligus mengantisipasi potensi pergerakan tanah yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.

Pengawasan melalui inspeksi lapangan bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung yang terdiri dari sejumlah pakar geoteknik dan struktur bangunan.

Kegiatan tersebut juga melibatkan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta yang tengah melakukan perbaikan Jalan Gombel Lama.

Kepala Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan pemantauan kondisi lereng secara intensif selama dua tahun terakhir.

“Di kawasan Gombel Lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pemantauan. Alat ini berfungsi mendeteksi pergerakan tanah, muka air tanah, serta tekanan fluida di dalam lapisan tanah,” ujar Ferry.

Menurutnya, seluruh data dari sensor tersebut di analisis secara berkala setiap dua minggu sekali. Dengan sistem tersebut, perubahan sekecil apa pun pada struktur tanah dapat terdeteksi lebih dini sehingga langkah mitigasi dapat segera berjalan.

Ferry menegaskan aktivitas yang saat ini berlangsung di area Pakuwon masih berupa pematangan lahan dan penguatan stabilitas tanah, bukan pembangunan pusat perbelanjaan.

BACA JUGA: 19 Rumah Warga Retak Imbas Proyek Pakuwon dan Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang 

“Yang sedang berjalan sekarang adalah proses pematangan lahan untuk meningkatkan stabilitas lereng. Jadi belum masuk tahap pembangunan mal,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung, Prof. Dr. Ir. Bambang Setioko, M.Eng., menjelaskan teknologi yang pengembang terapkan di rancang untuk mengurangi risiko pergerakan tanah tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

“Pematangan lahan menggunakan metode pengeboran sehingga dampaknya terhadap lingkungan relatif kecil. Upaya ini bertujuan mengantisipasi pergerakan tanah yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat,” katanya.