SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Tata Ruang memperkuat pengawasan stabilitas lereng di kawasan Gombel Lama seiring berlangsungnya perbaikan jalan nasional dan proses pematangan lahan proyek kawasan komersial Pakuwon.
Langkah ini untuk memastikan keamanan lingkungan sekaligus mengantisipasi potensi pergerakan tanah yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.
Pengawasan melalui inspeksi lapangan bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung yang terdiri dari sejumlah pakar geoteknik dan struktur bangunan.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta yang tengah melakukan perbaikan Jalan Gombel Lama.
Kepala Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan pemantauan kondisi lereng secara intensif selama dua tahun terakhir.
“Di kawasan Gombel Lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pemantauan. Alat ini berfungsi mendeteksi pergerakan tanah, muka air tanah, serta tekanan fluida di dalam lapisan tanah,” ujar Ferry.
Menurutnya, seluruh data dari sensor tersebut di analisis secara berkala setiap dua minggu sekali. Dengan sistem tersebut, perubahan sekecil apa pun pada struktur tanah dapat terdeteksi lebih dini sehingga langkah mitigasi dapat segera berjalan.
Ferry menegaskan aktivitas yang saat ini berlangsung di area Pakuwon masih berupa pematangan lahan dan penguatan stabilitas tanah, bukan pembangunan pusat perbelanjaan.
BACA JUGA: 19 Rumah Warga Retak Imbas Proyek Pakuwon dan Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang
“Yang sedang berjalan sekarang adalah proses pematangan lahan untuk meningkatkan stabilitas lereng. Jadi belum masuk tahap pembangunan mal,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung, Prof. Dr. Ir. Bambang Setioko, M.Eng., menjelaskan teknologi yang pengembang terapkan di rancang untuk mengurangi risiko pergerakan tanah tanpa mengganggu lingkungan sekitar.
“Pematangan lahan menggunakan metode pengeboran sehingga dampaknya terhadap lingkungan relatif kecil. Upaya ini bertujuan mengantisipasi pergerakan tanah yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat,” katanya.
Ia menilai proyek tersebut tidak hanya berpotensi menghadirkan investasi baru bagi Kota Semarang. Tetapi juga membuka lapangan pekerjaan sekaligus memperkuat keamanan kawasan dari ancaman longsor.
Pendapat serupa ahli struktur Dr. T. Ir. Herry Ludiro Wahyono, ST, MT sampaikan. Ia menjelaskan hasil kajian geoteknik selama dua tahun menunjukkan perlunya penguatan lereng melalui pembangunan dinding penahan tanah berlapis.
“Kami merekomendasikan pembangunan tujuh lapis dinding penahan menggunakan metode bored pile dengan kedalaman sekitar 35 hingga 40 meter dan diameter 1 hingga 1,2 meter,” ujarnya.
Herry mengungkapkan potensi pergerakan tanah di kawasan tersebut meningkat saat musim hujan. Air yang meresap ke dalam tanah dapat bertemu lapisan clay shale yang memiliki karakteristik mudah berubah ketika terkena air sehingga memicu pergeseran tanah.
Karena itu, lanjutnya, kawasan tersebut tidak untuk sistem resapan air tanah dalam jumlah besar dan memerlukan penguatan struktur sebelum pembangunan utama terlaksana.
Ia juga memastikan penggunaan alat berat di lokasi tidak menimbulkan getaran berbahaya bagi lereng. Seluruh pekerjaan saat ini difokuskan pada pemasangan bored pile yang berfungsi sebagai dinding penahan tanah atau soldier pile.
“Konstruksi ini menjadi sabuk pengaman lereng yang tidak hanya melindungi area proyek, tetapi juga memberikan perlindungan bagi permukiman warga dan infrastruktur publik di sekitar Gombel Lama,” terangnya.
Berdasarkan catatan historis dan pengalaman warga setempat, kawasan Gombel Lama memang terkenal memiliki karakteristik geologis yang rentan terhadap pergerakan tanah. Bahkan sejumlah bangunan warga kerap mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah secara alami. (*)






