Pendidikan

Soal Piagam Palsu di PPDB SMA, Orang Tua Siswa SMPN 1 Semarang Berencana Gugat ke PTUN

×

Soal Piagam Palsu di PPDB SMA, Orang Tua Siswa SMPN 1 Semarang Berencana Gugat ke PTUN

Sebarkan artikel ini
Soal Piagam Palsu di PPDB SMA, Orang Tua Siswa SMPN 1 Semarang Berencana Gugat ke PTUN
Suasana audiensi orang tua siswa SMPN 1 Semarang dengan Pemprov Jateng di Gedung B Lantai 5 Kantor Gubernur Jateng, Kamis 11 Juli 2024 siang. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Saat verifikasi tidak bisa ganti, nama anak-anak juga masih ada dalam PPDB. Tapi ada beberapa orang tua yang akan mendaftar ulang, tidak bisa,” tambah dia.

Penganuliran 69 anak ini sendiri secara offline oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Akhirnya siswa banyak yang terlempar. Pihak orang tua sendiri tidak menyangka jika piagam yang mereka gunakan ternyata bermasalah.

“Harusnya kalau online tidak bisa ya secara offline, kondisi anak tentu shock. Bahkan mereka mendapatkan bullyan dan hinaan, mental mereka jatuh. Padahal mereka berjuang latihan pagi sampai malam,” keluhnya.

Kesalahan Ada di Pelatih

Orang tua siswa sendiri menerima piagam dari sekolah pada 11 Juni, dalam bentuk legalisir dari pihak sekolah. Sementara piagam Marching Band di event Internasional secara offline penyelenggaraan dari Malaysia. Anehnya lagi, prestasi para siswa ini juga di unggah di sosial media sekolah.

“Kita tidak ragu menggunakan karena ada legalisir dari sekolah, juga ada Dinas Pendidikan Kota yang mengetahui,” tambahnya.

Orang tua siswa, kata dia, sempat berkomunikasi dengan Suroso, pelatih Marching Band. Ia mengaku terakhir berkomunikasi pada 27 Juni 2024 lalu.

Orang tua siswa pun sempat komplain, atas kasus dugaan piagam palsu. Sampai sekarang Suroso tidak di ketahui keberadaannya.

“Dinas Pemuda dan Olahraga Jateng, bilang kalau pelatih mengakui sebenarnya tim dari SMP N 1 itu juara 3, tapi di piagam tertulis juara 1. Katanya Suroso, sengaja melakukan itu,” katanya.

Adapun masalah ini, menurut Indah bukan kesalahan dari anak-anak ataupun orang tua siswa. Melainkan kesalahan Suroso.

Pihaknya meminta agar pemerintah bisa memulihkan nama baik anak-anak yang saat ini terkena sanksi sosial dari masyarakat.

Suroso si pelatih Marching Band sendiri, selain mengajar di SMP N 1 Semarang, juga mengajar di SDN Ngaliyan 1. Bahkan ada informasi dia juga mengajar di Akpol.

“Proses berjalan nanti akan ketahuan kok pelatih yang salah. Kami ada rencana menggugat karena ini cacat hukum,” ujarnya.