Ia menegaskan bahwa keberlangsungan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh simbol atau tradisi baru, melainkan oleh kemampuan pasangan menjaga komunikasi.
“Rumah tangga itu harus ada komunikasi. Kalau tidak, masing-masing hanya menuruti kehendak sendiri. Tepuk Sakinah bisa jadi pengingat sederhana bahwa suami istri harus saling memahami dan berkomunikasi,” tegasnya.
Sebagai inovasi baru, Probowatie menilai efektivitas Tepuk Sakinah perlu terus dievaluasi. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa inovasi ini bisa menjadi media edukasi kreatif bagi calon pengantin.
“Minimal, Tepuk Sakinah itu memberi pesan penting bahwa perkawinan tidak bisa berjalan tanpa komunikasi yang sehat,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





