Menurutnya, aktivitas di terminal bayangan berpotensi menimbulkan kemacetan, terutama saat puncak arus mudik dan arus balik Lebaran.
“Kami telah mengimbau agar lebih tertib mengangkut dan menurunkan penumpang. Di luar terminal ada yang diperbolehkan, setidaknya jangan berhenti yang tak berizin, sehingga kenyamanan masyarakat tidak terganggu,” kata Djatmiko.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan terminal resmi demi keamanan dan kenyamanan selama perjalanan mudik.
“Harapannya masyarakat juga melakukan hal yang sama, agar semuanya tetap aman,” sambungnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkirakan sekitar 17,3 juta pemudik akan masuk ke wilayah Jawa Tengah pada Idulfitri 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas tersebut, berbagai langkah strategis telah disiapkan.
Selain memastikan kesiapan infrastruktur transportasi, Pemprov Jateng juga menyiapkan pengamanan pasokan bahan pokok serta mitigasi potensi bencana di sejumlah daerah.
Dinas Perhubungan Jateng juga mendirikan sejumlah posko pengamanan, mulai dari Posko Terpadu di Kantor Dinas Perhubungan Jateng, posko kewilayahan di enam Balai Pengelola Sarana Prasarana Perhubungan, hingga posko di 23 Terminal Tipe B.
BACA JUGA: Polda Jateng Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Terjadi Dua Kali: 14-15 dan 18-19 Maret
Pengawasan lalu lintas juga akan diperkuat melalui patroli mobile di sejumlah titik rawan kemacetan seperti kawasan wisata dan pasar tumpah.
Selain itu, Dinas Perhubungan Jateng menyiapkan rambu portable, menambah 10 unit CCTV pemantau lalu lintas, serta kembali menggelar program mudik dan balik rantau gratis bagi masyarakat. (*)
Editor: Farah Nazila





