SEMARANG, beritajateng.tv – Baru-baru ini, Toko Tong Hien sedang menggelar cuci gudang dengan diskon besar-besaran guna menghabiskan stok barang. Perkakas toko, mulai dari pendingin minuman etalase hingga keranjang lebaran, semua ditawarkan dengan harga menggiurkan.
Meskipun masih ada beberapa barang tersisa, namun hanya sejumlah kecil yang menanti para pembeli untuk membeli atau memborongnya.
Di media sosial dan percakapan sehari-hari, banyak spekulasi mengenai nasib toko kelontong legendaris ini. Namun yang pasti, gerai Tong Hien yang terkenal di Semarang ini jelas akan segera tutup.
Sementara itu, pihak operasional toko telah mengeluarkan surat terkait pengumuman bagi para supplier tokonya. Di dalamnya juga tercantum bahwa toko ini bakal menutup operasionalnya per tanggal 31 Januari 2024.
“Berkaitan dengan kesulitan menjalankan usaha retail kami dan telah terjadi defisit keuangan kronis di Toko Tong Hien dalam beberapa tahun belakangan ini. Sehingga saat ini kami berencana akan menutup operasional toko kami per tgl 31 Januari 2024. Penutupan Toko Tong Hien merupakan opsi terakhir yang kami ambil dengan berat hati, untuk menghindari kerugian yang berlarut-larut,” mengutip surat yang bertanda tangan pemilik Tong Hien, Awe Sugiarto.
Sedikit riwayat Toko Tong Hien
Sementara itu, Pemerhati Sejarah Semarang, Johanes Christiono, menyebut bahwa Tong Hien berdiri pada tahun 1952. Meskipun awalnya berlokasi di Jalan Argopuro, toko ini kemudian pindah ke Jalan Sultan Agung setelah beberapa waktu hanya menyewa tempat.
Menurut Johanes, Tong Hien merupakan gerai kelontong besar pertama di Semarang setelah kemerdekaan.
“Toko Tong Hien seangkatan juga dengan Toko Siranda yang saat ini sudah tutup,” ujar Johanes.
BACA JUGA: Buka 24 Jam dengan Omset Rp3 Juta Per Hari, Begini Geliat Warung Kelontong Madura di Semarang
Pada tahun 2015, Tong Hien mengalami kebakaran dan harus tutup, tetapi pada tahun 2016 mereka kembali beroperasi. Namun, berdasarkan informasi yang Johanes terima, Tong Hien tutup karena kalah bersaing dengan gerai kelontong modern dan pesaing online.
“Kalah bersaing dengan online. Operasional toko enggak ketutup penghasilan,” jelasnya. (*)





