SEMARANG, beritajateng.tv – Tradisi sakral Ganti Luwur Abah Syeikh Saeful Anwar tetap lestari dan menggema di Kota Semarang. Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri Ketileng kembali menggelar Khaul Abah Syeikh dan Ganti Luwur ke-13 pada Rabu, 11 Februari 2026 malam, sebagai wujud penghormatan terhadap ulama yang wafat 13 tahun silam sekaligus ikhtiar nguri-nguri budaya Jawa.
Ribuan warga tumpah ruah mengikuti kirab budaya yang menjadi pembuka prosesi. Gunungan palawija diarak bersama kereta kencana pembawa luwur baru, diiringi penari dan pertunjukan wayang. Suasana religius berpadu dengan nuansa tradisi Jawa yang kental.
Sesampainya di kompleks pondok pesantren, berlanjut peneyrahan luwur baru kepada keluarga Abah Syeikh. Mereka kemudian berjalan menuju makam untuk membersihkan nisan sebelum mengganti kain luwur lama dengan yang baru.
BACA JUGA: Wisata Religi Menara Kudus Tak Hanya Makam, Inilah Tradisi Penjamasan Keris Peninggalan Sang Sunan
Setelah prosesi selesai, jamaah bersama keluarga memanjatkan doa. Luwur lama selanjutnya dibawa kembali ke ndalem (rumah) Abah Syeikh untuk disimpan.
Panglima Santri, Haris Heri Supangat, menyampaikan bahwa ganti luwur tahun ini bertepatan dengan haul ke-13 Abah Syeikh dan mengusung tema “Tebarkan Kawelasan Asihan”.
“Peringatan ini bukan sekadar doa untuk sang guru, tetapi juga ajang meneguhkan toleransi, cinta kasih, dan persatuan dalam keberagaman,” ujarnya pada Rabu, 11 Februari 2026 malam.
Ia mengatakan, peringatan tahun ini semakin sakral, kain luwur baru yang terpasang berasal dari kiswah Mekah, Arab Saudi. Kehadiran kiswah tersebut menambah kekhusyukan haul ke-13 Abah Syeikh Syaiful Anwar.
Simbol Gunungan dan Spirit Gemah Ripah Loh Jinawi
Ketua Panitia Pelaksana Haul ke-13, Alwi Alex Sujanto, menekankan bahwa tradisi ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan sarat pesan budaya dan spiritual.
Menurutnya, gunungan palawija atau polo wijo dalam arakan kirab ini memiliki makna mendalam. Simbol tersebut merepresentasikan harapan akan negeri yang gemah ripah loh jinawi, adil, makmur, serta toto tentrem kerto raharja.
“Nguri-uri budaya itu kita arahkan pada polo wijo dan gunungan. Itu menjadi sanepan agar masyarakat suka menanam, berbaur dengan alam, sehingga alam tidak mudah rusak,” jelas Alex.
BACA JUGA: Kirab Temu Gelang Blora: Arak-arak Keris Kyai Bisma Tengah Malam dengan Laku Tapa Bisu
Ia menambahkan, sebelum prosesi ganti luwur, para santri dan keluarga telah menggelar muqodaman dengan total 52 kali khataman Al-Qur’an. Rangkaian tersebut menjadi fondasi spiritual yang menguatkan makna haul.
“Sudah 52 khataman sebelum pelaksanaan kegiatan ganti luwur ini,” imbuhnya.
Merawat Tradisi, Menjaga Identitas
Gus Luqman alias Guse, penerus Abah Syeikh Saeful Anwar, dalam rilisnya menegaskan bahwa khaul adalah cara merawat ingatan kolektif tentang keteladanan guru.
“Khaul adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan umat. Dari sini kita belajar adab, keikhlasan, dan pengabdian. Spirit menebarkan kawelasan asihan menjadi inti tradisi yang kita uri-uri,” ungkapnya.
Menurutnya, pelestarian tradisi pesantren memiliki peran strategis dalam membangun karakter masyarakat, terutama generasi muda. Melalui ganti luwur, nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta kasih sayang terus ditanamkan.
Pihak pesantren berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga kesinambungan tradisi, memperkuat persaudaraan, serta menebarkan nilai kawelasan asihan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





