SEMARANG, beritajateng.tv – Acara Town Hall Meeting Danantara berlangsung tertutup tanpa penjelasan resmi, awak media diminta keluar saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pembekalan kepada direksi BUMN.
Padahal sebelumnya, Prabowo menjanjikan pengelolaan Danantara akan berjalan transparan dan terbuka untuk diawasi publik.
Menurut informasi, Prabowo sengaja meminta sambutannya berlangsung tertutup. Hal ini karena ia menegur para direksi terkait pemanfaatan aset negara yang kini dikelola Danantara.
BACA JUGA: Warganet Ajak Tarik Uang dari Bank BUMN Imbas Danantara, Pengamat Undip: Panik Berlebihan
Presiden menekankan agar aset tersebut memberikan nilai tambah nyata bagi perekonomian.
“Enggak enak kan negur ada kalian. Saya minta semua direksi berbuat yang terbaik, tinggalkan praktik-praktik zaman dulu mungkin yang kurang efisien, atau ada praktik-praktik yang enggak bener harus di tinggalkan,” ujar Prabowo.
Apa itu Danantara?
Mengutip dari Antara, Pemerintah resmi membentuk Danantara (Daya Anagata Nusantara) sebagai badan pengelola investasi nasional untuk mengoptimalkan aset negara di luar APBN. Nama Danantara menggambarkan kekuatan ekonomi masa depan Indonesia.
Melalui Danantara, pemerintah mengonsolidasikan aset BUMN ke dalam satu dana investasi nasional.
Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, dan memperkuat perekonomian nasional.
Dukungan Prabowo untuk Danantara
Presiden Prabowo Subianto mendukung pembentukan Danantara dengan menerbitkan dua regulasi: Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang perubahan UU BUMN, serta Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 tentang organisasi dan tata kelola Danantara.
BACA JUGA: Pengamat Undip Anggap Wajar Publik Respons Negatif Danantara: Mekanisme Belum Jelas
Danantara di proyeksikan menciptakan 3 juta lapangan kerja, menarik investasi sebesar 618 miliar USD. Juga menyumbang 235,9 miliar USD ke PDB, dan meningkatkan peluang ekspor hingga 857,9 miliar USD.
Prabowo optimistis Danantara akan menjadi motor utama perekonomian Indonesia, memperkuat fondasi menuju kemandirian ekonomi dan daya saing global. (*)





