JatengKesehatan

Udara di Jawa Tengah Terpapar Debu, Waspadai Potensi Penyakit ISPA pada Anak

×

Udara di Jawa Tengah Terpapar Debu, Waspadai Potensi Penyakit ISPA pada Anak

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo di kantornya, Rabu, 9 September 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, mengungkapkan, musim kemarau membuat udara di sejumlah wilayah tersebut lebih banyak terpapar debu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo, mengatakan, kondisi udara terpapar debu dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Terutama pada anak-anak.

Dia bilang, paparan debu bisa memicu sejumlah penyakiyt. Di antaranya penyakit saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk influenza.

Menurutnya, kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling rentan mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara menurun.

“Karena musim panas, jadi penyakit yang agak meningkat ya influenza,” kata Heri, Jumat, 11 September 2026.

Dia mengatakan, menjelaskan influenza merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan akut. Pada bayi dan balita, infeksi tersebut perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkembang menjadi pneumonia.

BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele, Disfungsi Ereksi Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius

Instansi kesehatan Pemprov Jateng, mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Tterutama saat kondisi udara berdebu.

“Kalau keluar-keluar, seperti kalau pakai motor harus pakai masker baiknya,” katanya.

Selain menggunakan masker, masyarakat juga harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Termasuk rajin mencuci tangan.

Khusus untuk anak-anak, orang tua juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan dan membatasi kontak dengan orang yang sedang sakit.

Kota Semarang banyak Debu Terendap

Sebagai contoh, kata dia, kondisi debu terendap di Kota Semarang secara visual sudah cukup terlihat. Walaupun demikian, dia belum berani menyebut angka pasti karena membutuhkan pengukuran secara langsung.

“Semarang itu debu terendapnya itu cukup tinggi,” katanya.

Dia mengatakan, Kota Semarang termasuk daerah yang perlu mendapat perhatian terkait kondisi tersebut. Selain faktor cuaca, tingginya aktivitas kendaraan dan kawasan industri turut memengaruhi kondisi udara.

“Ada pabrik, yang kedua kepadatan mobil, motor itu. Kendaraan itu kan banyak ya. Semarang sangat padat sekali,” katanya.

BACA JUGA: BUMDes di Tengaran Kembangkan Ternak Kambing Boer Asal Afrika, Nilai Jual Tinggi dan Tahan Penyakit