SEMARANG, beritajateng.tv – Masalah kesehatan seksual pada pria masih sering dianggap sebagai hal yang tabu. Tidak sedikit pria memilih memendam keluhan yang ia alami, karena malu atau menganggap kondisi tersebut sebagai bagian normal dari pertambahan usia.
Padahal, gangguan fungsi seksual dapat menjadi tanda awal adanya penyakit serius yang memerlukan penanganan medis.
Pakar kesehatan menjelaskan, kesehatan seksual bukan hanya berkaitan dengan kemampuan saat berhubungan intim.
Kondisi tersebut juga mencerminkan kesehatan tubuh secara keseluruhan, mulai dari fungsi pembuluh darah, keseimbangan hormon, sistem saraf, hingga kesehatan mental.
Salah satu gangguan yang paling sering dialami adalah disfungsi ereksi. Kondisi ini terjadi ketika seseorang kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.
“Disfungsi ereksi tidak selalu karena faktor usia. Kondisi ini dapat menjadi tanda adanya penyakit lain seperti gula darah, tekanan darah tinggi, gangguan pembuluh darah, kolesterol tinggi, hingga ketidakseimbangan hormon,” jelas tim medis The Men’s Clinic.
Menurutnya, fungsi seksual pria terpengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan. Aliran darah yang lancar, kadar hormon testosteron yang normal, sistem saraf yang sehat, serta kondisi psikologis yang stabil berperan penting dalam menjaga kualitas ereksi.
Karena itu, ketika fungsi seksual mulai mengalami gangguan, kondisi tersebut tidak seharusnya kita anggap sepele. Pemeriksaan sejak dini justru dapat membantu mendeteksi penyakit yang belum menunjukkan gejala.
Beragam Faktor Penyebab
Gangguan kesehatan seksual dapat di picu oleh berbagai faktor, baik fisik maupun psikologis. Beberapa di antaranya adalah diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit pembuluh darah, obesitas, gangguan hormon, pertambahan usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, hingga gangguan kecemasan dan depresi.
Dalam banyak kasus, beberapa faktor tersebut muncul secara bersamaan sehingga meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi.
“Sering kali pasien mengalami lebih dari satu faktor risiko. Karena itu pemeriksaan menyeluruh sangat penting agar penyebab utamanya dapat diketahui,” ungkapnya.





