Jateng

Uniknya Tradisi Gas Deso di Jiken Blora, Warga Syukuri Panen Raya Melimpah dengan Perang Nasi

×

Uniknya Tradisi Gas Deso di Jiken Blora, Warga Syukuri Panen Raya Melimpah dengan Perang Nasi

Sebarkan artikel ini
Gas Deso
Tradisi Gas Deso di Dukuh Boleran, Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Blora, Senin, 14 April 2025. (Heri/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng tv – Warga Dukuh Boleran, Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Blora, merayakan panen raya dengan cara unik, yakni melalui acara sedekah bumi yang juga dikenal sebagai “Gas Deso”.

Dalam acara ini, puluhan pemuda saling lempar nasi dalam tradisi perang nasi yang telah berlangsung turun-temurun.

Meskipun harga beras di pasaran terus melambung, warga setempat tetap melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah.

BACA JUGA: Calon Jamaah Haji Tertua di Blora, Mbah Dasmi Siap Berangkat ke Tanah Suci di Usia 91 Tahun

Aksi perang nasi ini menarik perhatian banyak warga desa sekitar, menjadikannya tontonan yang seru dan penuh semangat.

Sebelum aksi perang nasi mulai, warga membawa tumpeng berisi nasi dan berbagai hasil bumi yang tertata apik.

Empat gunungan berisi makanan dan lauk pauk warga arak keliling desa, dengan iringan kesenian lokal Barongan yang menambah meriah suasana.

Tradisi Gas Deso, sedekah bumi ala warga Jiiken, Blora

Tradisi ini berlangsung setiap tahun setelah panen padi, sebagai ucapan terima kasih atas hasil yang melimpah di awal tahun.

Acara dibuka dengan sambutan dari sesepuh desa yang kemudian membacakan doa, menandai mulainya perayaan.

Anisa, salah satu warga yang terlibat, mengaku selalu menantikan tradisi perang nasi ini.

“Ini adalah budaya yang perlu kita lestarikan,” ujar Anisa, Senin, 14 April 2025.

Sementara itu, Mustamir, peserta perang nasi lainnya, merasa bahagia bisa ikut memeriahkan acara Gas Deso.

BACA JUGA: Ratusan Warga Serbu Kantor UPPD Samsat Blora untuk Pemutihan Pajak Kendaraan

Menariknya, setelah perang nasi, tidak ada rasa dendam di antara mereka.

“Namanya sawura. Kami biasa saja. Los, tidak ada rasa dendam”, tutur Mustamir.

Ketua RW 10 Dukuh Boleran, Bambang, menjelaskan bahwa tradisi saling lempar nasi ini bertujuan untuk melestarikan budaya lokal.

“Kami juga mengarak gunungan hasil panen sebagai bentuk kepedulian masyarakat atas hasil bumi yang melimpah,” ungkap Bambang.