SEMARANG, beritajateng.tv – Dugaan kasus kekerasan seksual yang menyeret seorang dosen di UIN Walisongo Semarang mengungkap fakta baru. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) menyebut hingga kini terdapat empat dugaan korban yang sedang dalam penelusuran.
Ketua DEMA FUHUM UIN Walisongo, Nur Yusril mengungkapkan hingga saat ini belum ada korban yang melapor langsung ke DEMA. Namun, pihaknya telah menerima sejumlah informasi terkait dugaan korban.
“Untuk sejauh ini belum ada yang melapor langsung, cuma sudah ada beberapa dugaan korban,” ujarnya saat beritajateng.tv hubungi pada Jumat, 8 Mei 2026.
Selain mengecam tindakan tersebut, DEMA juga menyatakan keberpihakan penuh kepada korban dan mendesak agar kasus tertangani secara transparan.
BACA JUGA: Kecam Dugaan Kekerasan Seksual di Pati, Dewan: Pengawasan Tak Hanya di Ponpes
Yusril menjelaskan, satu dugaan korban berasal dari data internal DEMA FUHUM, sementara tiga dugaan korban lainnya diperoleh dari koordinasi dengan DEMA universitas dan Satgas PPKS.
“Dari DEMA FUHUM sendiri ada satu dugaan korban. Terus waktu ketemu dengan Satgas dan DEMA universitas ternyata ada tiga dugaan korban. Artinya saat ini ada empat yang terduga korban,” jelasnya.
Menurut Yusril, dugaan kekerasan seksual yang terungkap sejauh ini masih berbentuk pelecehan digital melalui pesan pribadi. Ia mengaku banyak mahasiswa terkejut dengan munculnya kasus tersebut karena sosok dosen yang diduga terlibat dikenal ramah di lingkungan kampus.
“Beberapa mahasiswa sempat kaget karena dosen ini terkenal ramah dan cendekiawan,” ungkapnya.
Terduga Pelaku Pernah Mengaku di Pimpinan Fakultas
Yusril juga mengungkapkan fakta baru terkait penanganan internal fakultas. Ia menyebut terduga pelaku yang merupakan mantan kepala program studi pernah mengakui perbuatannya di hadapan dekan fakultas.
“Pelaku mengakui kalau yang beredar di media sosial memang ciri-ciri dan narasinya mengarah ke dia, dan dia mengaku kalau memang dia pelakunya,” katanya.
Pengakuan itu, lanjut Yusril, berlangsung sekitar Desember 2025 hingga Januari 2026 dalam pertemuan dengan pimpinan fakultas.





