SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan warga warga RW 7 Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang gotong royong bangun jembatan darurat dari bambu agar akses warga tak lagi terisolir, Minggu, 1 Februari 2026.
Sejak pagi, warga bersama aparat TNI, Polri, serta perangkat kecamatan dan kelurahan turun langsung ke sungai.
Mereka menancapkan bambu berukuran besar ke dasar sungai sebagai pondasi jembatan dengan peralatan sederhana.
Sejumlah warga bahkan naik ke atas gethek atau perahu kecil sambil membawa mesin pompa untuk memudahkan penanaman bambu.
“Siji, loro, telu, surung,” teriak salah satu warga memberi aba-aba saat mendorong bambu agar tertancap lebih dalam ke dasar sungai.
Di sisi lain, warga lain mempersiapkan bambu menggunakan parang agar permukaannya lebih halus dan layak sebagai rangka serta alas jembatan. Pembangunan jembatan darurat ini menargetkan bisa rampung dalam waktu tiga hari ke depan.
Jembatan lama yang menjadi satu-satunya akses warga RT 6 hingga RT 9 ini roboh akibat derasnya arus Sungai Beringin pada Kamis, 15 Januari 2026 lalu.
BACA JUGA: Dua Pekan Akses Putus Akibat Jembatan Roboh, Warga Mangkang Wetan Bertaruh Nyali Seberangi Sungai
Sejak saat itu, warga terpaksa menggunakan gethek atau perahu untuk menyeberang menuju akses utama kampung dan Kelurahan Mangunharjo.
Ketua RW 7 Mangkang Wetan, Sumadi, mengatakan lebih dari dua pekan warga hidup dalam kondisi terisolasi. Berbagai aktivitas sehari-hari pun terganggu.
“Lebih dari dua minggu warga terisolasi karena jembatan penghubung roboh. Dengan adanya jembatan darurat ini, setidaknya bisa membantu warga untuk menyeberang tanpa harus antre perahu,” ujar Sumadi.
Ia menjelaskan, putusnya jembatan berdampak luas, mulai dari aktivitas sekolah, pekerjaan, hingga pengelolaan sampah. Sampah rumah tangga bahkan sempat menumpuk di pinggir tambak karena armada pengangkut tidak bisa melintas.
“Kemarin sampah kota terpaksa ditumpuk sementara di pinggir tambak. Kalau jembatan sudah jadi, masalah sampah juga bisa teratasi,” katanya.
Di RW 7 Tambaksari, sekitar 170 kepala keluarga terdampak langsung akibat putusnya jembatan. Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan dan karyawan swasta yang sangat bergantung pada akses keluar masuk kampung.
Sumadi menegaskan jembatan darurat hanya pihaknya peruntukkan bagi pejalan kaki, sepeda motor, dan gerobak dengan pembatasan ketat.
Struktur utama jembatan menggunakan bambu petung, dengan alas papan serta anyaman bambu di sisi kanan dan kiri sebagai pengaman.
“Yang penting aman buat warga. Aksesnya hanya untuk orang, motor, dan gerobak,” ucapnya.
Lurah Mangkang Wetan, Benny Irawan, menyampaikan pembangunan jembatan darurat dilakukan secara swadaya oleh warga, didukung anggaran swakelola dari Kecamatan Tugu serta bantuan dari Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman. Tenaga dari TNI dan Polri juga turut membantu proses pengerjaan.
“Kita gunakan bambu jenis petung. Ini swadaya warga, disupport kecamatan, Pak Pilus, serta dibantu TNI dan Polri,” jelas Benny.
BACA JUGA: Jembatan Penghubung Roboh, Akses Warga RW 7 Mangkang Wetan Putus Total
Ia menyebut jembatan darurat memiliki panjang sekitar 30 hingga 36 meter dengan lebar kurang lebih 1,5 meter. Awalnya jembatan hanya dirancang untuk pejalan kaki, namun warga berharap bisa dilalui sepeda motor dan gerobak sampah.
“Kalau tidak bisa gerobak lewati, sampah tidak bisa kami buang ke TPS di seberang sungai,” ujarnya.
Untuk pembangunan jembatan darurat ini, perkiraan membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 juta, sebagian besar untuk pengadaan bambu. Proses pengerjaan targetnya selesai dalam tiga hari, termasuk tahap penyempurnaan.
Benny menambahkan, jembatan permanen nantinya tidak akan berdiri di titik yang sama dengan jembatan lama.
Hal ini karena lokasi lama berada di atas lahan milik warga yang tidak lagi di izinkan sebagai akses umum.
“Pembangunan jembatan darurat di jalur jalan umum supaya tidak mengganggu lahan milik warga,” katanya.
Terkait potensi cuaca ekstrem hingga Februari, Benny mengakui ada kekhawatiran jembatan darurat bisa terdampak arus sungai. Namun, ia memastikan konstruksi telah disesuaikan dengan kondisi lapangan.
“Tiang utama tidak terpasang di tengah sungai, tapi agak ke pinggir. Tinggi jembatan juga kami samakan dengan talud,” tuturnya.
Dorong Pemerintah Bangun Jembatan Permanen
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, meminta percepatan kebijakan pembangunan jembatan permanen pascabanjir.
Dia menilai jembatan darurat hanya menjadi solusi sementara yang tidak boleh berlarut-larut.
“Memang tidak bisa kita biarkan. Jembatan darurat ini solusi cepat, tapi pemerintah harus segera menyiapkan jembatan permanen,” ujar Pilus, sapaanya.
Menurutnya, ambrolnya jembatan berdampak besar terhadap kehidupan warga, mulai dari akses ke pasar, sekolah, hingga layanan dasar.
Ia menegaskan legislatif akan terus mendorong koordinasi antara Pemkot Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga pemerintah pusat.
“Warga punya hak untuk hidup normal. Kami akan terus mendorong agar jembatan baru segera terealisasikan,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





