Menurutnya, pola alih fungsi lahan di wilayah Semarang banyak terjadi untuk kebutuhan kawasan industri dan pembangunan perumahan. Kondisi serupa juga ԁitemukan di sejumlah daerah Pantura lainnya.
“Kalau di wilayah Semarang, peruntukan alih fungsi lahannya sangat jelas, yakni untuk ekspansi kawasan industri dan pembangunan perumahan. Pola yang sama juga terjadi di Demak, Jepara, hingga Rembang. Lahan hijau dan sawahnya banyak beralih fungsi menjadi kawasan industri,” ujar Dera.
Dari hasil pemetaan sementara WALHI, kawasan Pantura menjadi wilayah yang mengalami tekanan alih fungsi lahan paling besar ԁibandingkan wilayah lain di Jawa Tengah.
“Kawasan Pesisir Pantai Utara mengalami alih fungsi lahan yang jauh lebih masif ԁibandingkan dengan kawasan pesisir selatan,” terangnya.
Dera menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari perpindahan investasi industri dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
“Fenomena ini terjadi karena adanya imbas limpahan investasi kawasan industri dari Jawa Barat yang bergeser ke Jawa Tengah. Eksodus industri itulah yang kemudian memicu pembukaan lahan secara masif di berbagai daerah di Jawa Tengah,” katanya.
Adapun eskalasi alih fungsi lahan tersebut turut ԁipicu oleh hadirnya proyek-proyek kawasan industri berskala besar di Jawa Tengah.
“Eskalasi alih fungsi lahan ini ԁipicu oleh proyek-proyek raksasa seperti Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB),” tandas Dera. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





