SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat 419 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Catatan ini sepanjang 5 Juni – 20 September 2026, dengan luasan lahan terdampak mencapai 868 hektare.
Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan, kejadian karhutla tersebut tersebar di 34 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
“Untuk peristiwa karhutla, jumlah kejadiannya ada 419 peristiwa dengan luasan lahan terdampak 868 hektar,” katanya Jumat malam, 25 September 2026.
Berdasarkan data Pusdalops PB BPBD Jateng yang beritajateng.tv terima, kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan tercatat sebesar Rp3 miliar lebih.
Adapun, wilayah di Solo Raya menjadi daerah dengan kejadian karhutla terbanyak. Di antaranya di Kabupaten Klaten sebanyak 54 kejadian. Kemudian menyusul Kabupaten Sragen dengan 47 kejadian.
Penyebab Kebakaran oleh Faktor Manusia
Bergas menyebut penyebab karhutla yang BPBD temukan banyak berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satunya pembakaran lahan pertanian, termasuk lahan tebu.
“Biasanya kebakaran lahan pertanian ya karena mungkin musim panen atau lahan tebu biasanya itu kan ada pembakaran. Ya, bisa kami bilang faktor manusia,” kata Bergas.
Bergas mengatakan, lahan yang terbakar tidak hanya berada di kawasan pertanian atau perkebunan. BPBD mencatat kategori lahan yang terdampak meliputi hutan, semak belukar hingga lahan pertanian.
Persoalan pembakaran lahan tebu, ucap Bergas, juga berkaitan dengan pertimbangan biaya panen. Penggunaan tenaga manusia untuk membersihkan lahan mereka nilai membutuhkan biaya lebih besar.
“Ini kan macam-macam, dari mulai hutan, lahan semak belukar, ada lahan pertanian juga ada, sifatnya campur. Kalau menggunakan tenaga manusia dengan harus babat satu-satu tentu biayanya akan lebih tinggi dan mengurangi keuntungan panen,” katanya.
Dia mengingatkan alasan biaya yang efisien itu, tidak akan menghilangkan risiko kebakaran yang timbul.
“Apapun alasannya itu tetap saja terhitung Karhutla. Hal tersebut dapat memperparah pemanasan global, memberikan dampak polusi, dan efek rumah kaca yang nantinya berdampak luas bagi kita semua,” katanya.





