Jateng

Semarang ‘Sumuk’ Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya

×

Semarang ‘Sumuk’ Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya

Sebarkan artikel ini
Semarang 'Sumuk' Sampai Malam Hari, BMKG Sebut El Nino dan IOD Biang Keladinya
Analis Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana menunjukkan cuaca kota Semarang yang panas akibat Elly Nino dan IOD. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musim kemarau biasanya identik dengan udara malam yang lebih sejuk. Namun, kondisi berbeda justru warga Semarang dan sejumlah wilayah Jawa Tengah rasakan. Malam hari di Kota Semarang justru terasa panas dan sumuk atau gerah meski hujan sesekali turun.

BMKG Jawa Tengah mengungkap kondisi atmosfer menjadi salah satu penyebabnya. Kelembapan udara yang rendah membuat suhu tidak cepat terasa sejuk setelah panas terik pada siang hari. Hal inilah yang menyebabkan suhu panas atau sumuk di Kota Semarang.

Analis Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, mengatakan kondisi kemarau tahun ini lantaran sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah El Nino yang berada dalam kategori sangat kuat.

“Sekarang kemarau di Jawa Tengah prediksinya lebih panjang dan lebih kering jika kita banding tahun lalu. Sebab El Nino dalam kategori sangat kuat dan di prediksi hingga awal tahun 2027 sehingga bisa mengurangi curah hujan,” kata Zauyik.

Menurut dia, kondisi tersebut makin kuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di Jawa Tengah.

BACA JUGA: Kebakaran TPA Jatibarang Semarang, Api Lahap Zona 3 Seluas 1.000 Meter 

Dampaknya tidak hanya terasa pada siang hari. Minimnya hujan membuat kondisi atmosfer dan lingkungan menjadi lebih kering sehingga kelembapan udara ikut menurun.

Ada Awan Mendung, Tapi Tak Jadi Hujan

Menariknya, atmosfer Jawa Tengah sebenarnya masih memiliki aktivitas yang mampu memicu pertumbuhan awan hujan. Salah satunya adalah Equatorial Rossby.

Fenomena tersebut dapat mendorong terbentuknya awan. Namun, awan yang tumbuh belum tentu berkembang menjadi hujan ketika kandungan uap air di atmosfer tidak mencukupi.

“Ditambah lagi kondisi Indian Ocean Dipole atau IOD positif yang juga mengurangi curah hujan. Sedangkan saat ini ada aktivitas Equatorial Rossby yang mampu membangkitkan awan-awan hujan,” ujar Zauyik.