Nasional

Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Media Lokal di Tengah Ancaman Revisi UU Hak Cipta

×

Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Media Lokal di Tengah Ancaman Revisi UU Hak Cipta

Sebarkan artikel ini
Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Media Lokal, di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 8 Oktober 2026. (Foto: Dok. AMSI)
Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Media Lokal, di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 8 Oktober 2026. (Foto: Dok. AMSI)

BANDUNG, beritajateng.tv – Media lokal Indonesia menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah perubahan lanskap digital dan wacana revisi UU Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014).

Keberlanjutan ekosistem media membutuhkan kebijakan yang melindungi distribusi konten, menolak kewajiban pembayaran atas tautan dan cuplikan berita (links and snippets) yang berisiko mengganggu trafik dan pendapatan. Selain itu, mendorong kemitraan B2B yang sukarela, transparan, dan saling menguntungkan antara media dan platform digital.

Persoalan dan ancaman ganda tersebut menjadi pembahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Media Lokal, di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 8 Oktober 2026.

Di tengah tekanan tersebut, keberlanjutan media lokal tidak hanya dari kemampuan perusahaan pers dalam mencari sumber pendapatan baru. Akan tetapi juga oleh ekosistem yang mendukung distribusi konten, jangkauan audiens, dan keberlangsungan pendapatan.

Di lain sisi, perubahan regulasi Hak Cipta ini dinilai tidak menyentuh akar persoalan yang media lokal hadapi. Akan tetapi justru membuka celah bagi intervensi pemerintah untuk mensentralisasi penarikan kompensasi dari platform digital melalui pihak perantara. Pihak tersebut, yakni Lembaga Manajemen Kolektif (LMK).

BACA JUGA: AMSI Nilai Gugatan Menteri Amran Sulaiman ke Tempo Ancam Kebebasan Pers: Bisa Timbulkan Efek Jera Media

Kehadiran birokrasi LMK ini berisiko fatal dalam membunuh ruang gerak media lokal karena berpotensi menciptakan krisis arus kas (cash flow) yang selama ini menjadi urat nadi operasional harian.

Selain itu, sentralisasi LMK juga memunculkan ancaman eksploitasi berupa pemotongan persentase kompensasi secara sepihak untuk biaya manajemen (management fee). Selain itu memicu ancaman de-indexing dan link tax yang bisa membuat platform global menghentikan distribusi konten secara instan.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mengatakan, kondisi industri media saat ini jauh berbeda dan sangat kritis. Terlebih jika regulasi kaku tersebut sampai sah. Hl itu dapat memutus urat nadi trafik dan pendapatan media lokal dari platform digital global.