Jateng

Ada 70 Ribu Difabel di Jateng, Dinsos Buka Peluang Kerja Lewat Pelatihan Pijat hingga Industri Alas Kaki

×

Ada 70 Ribu Difabel di Jateng, Dinsos Buka Peluang Kerja Lewat Pelatihan Pijat hingga Industri Alas Kaki

Sebarkan artikel ini
Difabel Jateng
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Jawa Tengah, Isriadi Widodo, saat dijumpai di Aula Dinsos Jawa Tengah, Kota Semarang, Minggu, 12 Oktober 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Lebih lanjut, Isriadi menyebut Dinas Sosial Jawa Tengah memetakan penempatan kerja berdasarkan jenis kedisabilitasan dan potensi tiap individu. Skema pelatihan ada penyesuaian, baik untuk penempatan di perusahaan maupun untuk mendorong wirausaha.

“Ragam disabilitasnya cukup beragam ya, sehingga kami di Dinas Sosial tentunya harus memetakan potensi-potensi yang mereka miliki sesuai dengan jenis kedisabilitasannya. Kemudian dengan prospek-prospek wirausaha ataupun keterampilan yang sekiranya itu cocok dengan jenis persoalan mereka,” terang Isriadi.

Ia mencontohkan, difabel netra umumnya mengikuti pelatihan pijat. “Pijat dan ben ini menjadi primadona di saudara-saudara kita yang disabilitas sensorik Netra,” tuturnya.

Untuk difabel rungu wicara, kata dia, pelatihannya dengan menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Dinas Koperasi UKM.

BACA JUGA: Hari Batik Nasional, Harris Sentraland Semarang Berdayakan Perempuan dan Difabel Lewat Pelatihan Membatik

“Anak-anak yang punya potensi itu juga mendapat pelatihan di produksi alas kaki sandal dan sepatu. Mereka setelah mengikuti proses pelatihan akan ditempatkan di perusahaan-perusahaan yang sudah bekerja sama,” jelasnya.

Sementara itu, kata Isriadi, difabel mental mendapat pelatihan dengan variasi lebih fleksibel sesuai karakter masing-masing.

“Artinya, kita tidak bisa menetapkan jenis latihan keterampilan yang sama karena masing-masing individu punya karakter dan punya potensi yang berbeda. Itu seperti mencuci motor, ada yang jualan cilok, membuat paving, dan ajaran membuat batik,” terang Isriadi.

Setelah lulus pelatihan, Isriadi menerangkan bahwa mereka akan Kementerian Sosial (Kemensos) fasilitasi bantuan modal melalui sentra-sentra pelatihan di Jawa Tengah.

Lapangan kerja terbuka, namun akses informasi masih jadi hambatan utama

Meski peluang kerja tersedia, Isriadi mengakui hambatan terbesar masih terletak pada akses informasi. Menurut pengakuannya, banyak difabel tidak tahu harus meminta dukungan ke mana.

“Potensi itu selalu ada, prospek itu selalu terbuka. Yang jadi persoalan kadang-kadang antara yang punya kebutuhan atau yang dengan yang punya masalah, tidak mengetahui aksesnya itu harus minta tolong ke mana, minta bantuan support ke mana, ini yang menjadi hambatan,” akunya.