SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang warga Solo mengadukan dugaan pencemaran lingkungan akibat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Mereka menilai fasilitas yang semestinya menjadi solusi pengelolaan sampah justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Perwakilan warga Solo, Sakti, mengatakan keberadaan PLTSa awalnya ԁiharapkan mampu mengelola sampah residu sehingga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Namun, menurut Saktu, kondisi di lapangan justru berbeda. Saktu menduga limbah dari PLTSa tidak ԁikelola dengan baik sehingga berdampak pada kesehatan warga.
“Alih-alih menjadi seperti itu, dengan kondisi saat ini PLTSa tersebut justru menjadi persoalan utama bagi warga Solo. Khususnya warga Mojosongo atau di sekitar TPA Putri Cempo,” ujar Sakti saat menyampaikan aspirasinya kepada Pemprov Jateng di Kantor Gubernur, Kota Semarang, belum lama ini.
Sakti mengatakan, limbah yang tak terkelola dengan baik menyebabkan warga yang tinggal di sekitar kawasan PLTSa Putri Cempo mengalami berbagai gangguan kesehatan.
“Akibatnya, limbah-limbah itu menyebabkan warga sekitar. Terutama yang tinggal di belakang atau di sekitar kawasan PLTSa, mengalami ISPA, penyakit kulit, dan masalah kesehatan lainnya,” imbuh Sakti.
BACA JUGA: PSEL Semarang Selangkah Lagi Dibangun, Veolia Asal Prancis Kandidat Terkuat Investor Pengolah Sampah Jadi Listrik
Selain meminta perbaikan pengelolaan limbah, warga juga berharap pemerintah meningkatkan fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Putri Cempo.
Selain persoalan kesehatan, Sakti menuturkan keberadaan PLTSa juga memengaruhi mata pencaharian para pemulung yang selama ini bergantung pada aktivitas di TPA Putri Cempo.
Sakti menegaskan, para pemulung tidak menolak keberadaan PLTSa. Namun, mereka berharap pemerintah tetap memberikan ruang pemberdayaan bagi masyarakat yang terdampak.
“Sebenarnya kami tidak menolak keberadaan PLTSa. Tapi tolong yang pertama, perbaiki pengelolaan limbahnya. Yang kedua, berikan formula atau modernisasi untuk memberdayakan kawan-kawan pemulung yang ada di sana,” tutur Sakti





