Sonny menjelaskan, Sensus Ekonomi 2026 berbeda dari sensus sebelumnya, karena turut mencakup sektor pertanian hingga rumah tangga.
Menurutnya, pendataan hingga rumah tangga diperlukan karena banyak aktivitas ekonomi kini dilakukan dari rumah, termasuk usaha berbasis digital.
“Sekarang sudah pakai TikTok, sudah pakai media sosial, itu tidak terlihat dari luar. Baru bisa kita data, baru bisa kita identifikasi kalau kita masuk ke rumah-rumah,” ujarnya.
Sonny menegaskan, Sensus Ekonomi 2026 berbeda dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sensus ini secara khusus mendata aktivitas ekonomi, baik pelaku usaha maupun ekonomi keluarga. Ia juga memastikan data yang dikumpulkan tidak berkaitan dengan perpajakan.
Salah satu petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Anastasia Putri mengatakan, pendataan berlangsung dengan mendatangi warga secara langsung dari rumah ke rumah. Sebelum bertanya, petugas lebih dulu memberikan penjelasan mengenai sensus kepada masyarakat.
“Petugas datang terus mengedukasi soal sensus ini. Habis itu langsung ditanya soal pertanyaan-pertanyaan yang ada di kuesioner,” kata Anastasia.
Ia mengaku sudah mendata sekitar 20 kepala keluarga. Dalam pelaksanaan di lapangan, kendala yang kerap muncul adalah kekhawatiran warga terhadap pertanyaan yang teranggap bersifat pribadi, termasuk soal pendapatan.
“Harapannya ke depan masyarakat lebih terbuka sama kita, karena ada undang-undangnya juga kan. Informasinya akan terlindungi,” ujarnya.
BACA JUGA: Perkuat Media dan Kehumasan, Gubernur Ahmad Luthfi Dukung Penuh Jateng Media Summit 2026
Anastasia mengatakan, masyarakat juga dapat memastikan identitas petugas sensus melalui surat tugas dan surat rekomendasi dari pemerintah daerah setempat. Selain itu, petugas sensus juga mengenakan rompi khusus.
“Jadi nanti bisa ditunjukkan ke masyarakat. Jadi masyarakat bisa lebih tahu dan paham juga kalau sensus ini aman,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





