Peristiwa

Akses Jalan ke Situs Jatiombo Mijen Semarang Ditutup Pengembang BSB Village, Warga Tuntut Dibuka Kembali

×

Akses Jalan ke Situs Jatiombo Mijen Semarang Ditutup Pengembang BSB Village, Warga Tuntut Dibuka Kembali

Sebarkan artikel ini
Akses Jalan ke Situs Jatiombo Mijen Semarang Ditutup Pengembang BSB Village, Warga Tuntut Dibuka Kembali
Sejumlah warga menunjukkan akses jalan menuju Situs Jatiombo yang diduga ditutup BSB Village Mijen Semarang. (Steve Arie/beritajateng.tv)

Terkait sejarahnya, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Jatiombo berkaitan dengan keberadaan pohon jati berukuran sangat besar pada masa lampau. Konon, kayu dari pohon tersebut dibawa ke Demak untuk dijadikan salah satu bagian tiang penyangga Masjid Demak.

“Pemkot sudah mulai turun tangan untuk penataan situs ini. Ada perbaikan jalan masuk dan penambahan lampu penerangan supaya pengunjung dan peziarah lebih nyaman. Harapan kami, akses jalan warga dan peziarah juga bisa buka kembali,” katanya.

Warga Harus Memutar Cari Akses Jalan

Keluhan serupa, Saroso warga lainnya sampaikan. Ia meminta akses Jalan Amarta yang menghubungkan Tambangan dan Sodong kembali semula. Agar masyarakat kedua wilayah bisa kembali terhubung tanpa harus menempuh perjalanan memutar.

Saroso menyebut jalan tersebut sebelumnya memiliki lebar sekitar lima hingga enam meter dengan panjang kurang lebih satu kilometer. Jalur itu telah lama masyarakat manfaatkan untuk berbagai kepentingan, mulai dari aktivitas ekonomi hingga mobilitas sehari-hari.

“Karena dulunya memang untuk akses masyarakat dua wilayah, antara Sodong dan Tambangan, sekarang malah di tutup. Kami menuntut bagaimana caranya agar jalan tersebut kembali buka sehingga akses kedua wilayah bisa langsung terhubung lagi,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, di jalur tersebut terdapat jembatan yang masyarakat kenal sebagai Jembatan Amarta. Namun, akses penghubung itu terputus sejak pembangunan perumahan BSB Village mulai berjalan pada 2022.

Dampaknya, ribuan warga disebut harus menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Polaman. Jika sebelumnya perjalanan antarkawasan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Kini warga harus memutar hingga kurang lebih tujuh kilometer dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

“Dulu jalan ini bisa di lalui mobil, truk pengangkut pasir, batu, maupun kendaraan yang membawa hasil panen warga. Sekarang tutup, warga harus memutar. Yang sebelumnya hanya lima menit, sekarang bisa sampai 20 menit,” jelasnya.

Bagi masyarakat setempat, persoalan penutupan jalan bukan sekadar bertambahnya jarak perjalanan.