BACA JUGA: Catatan Dinkes Semarang Soal Dua Atlet Porprov Meninggal, Minta MCU Atlet Tak Asal Formalitas
Terputusnya akses juga berpotensi memengaruhi kegiatan ekonomi warga, terutama distribusi hasil pertanian dan pengangkutan kebutuhan material.
Jalur yang sebelumnya mempermudah kendaraan membawa hasil panen kini tidak lagi dapat warga manfaatkan. Warga menilai tambahan jarak perjalanan dapat meningkatkan ongkos angkut dan berdampak pada harga barang yang harus dibayar masyarakat.
“Kalau dulu jalannya dekat, sekarang menjadi jauh sehingga biaya semakin mahal. Kami meminta agar akses tersebut kembali seperti semula. Kami akan berupaya memperjuangkan hak masyarakat kepada Pemerintah Kota Semarang maupun pihak pengembang agar jalan bisa dibuka kembali untuk kepentingan umum,” tegas Saroso.
Warga berharap Pemerintah Kota Semarang dapat memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut dengan mempertemukan masyarakat dan pihak pengembang BSB Village. Mereka meminta kejelasan mengenai status jalan serta dasar penutupan akses yang selama ini masyarakat gunakan.
Bagi warga Tambangan dan Sodong, berfungsinya kembali Jalan Amarta bukan hanya soal mempersingkat perjalanan. Lebih dari itu, jalan tersebut merupakan penghubung aktivitas sosial, ekonomi, dan akses masyarakat menuju Situs Jatiombo yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Mijen.
Masyarakat berharap penataan Situs Jatiombo sebagai tujuan wisata religi di Kota Semarang dapat berjalan beriringan dengan pemulihan akses jalan, sehingga kepentingan warga, peziarah, dan pengunjung tetap terakomodasi. (*)





