Jateng

Aktivis Lingkungan Ajak Warga Rumah Tangga Olah Sampah Sendiri

×

Aktivis Lingkungan Ajak Warga Rumah Tangga Olah Sampah Sendiri

Sebarkan artikel ini
Theresia Tarigan
Theresia Tarigan, aktivis lingkungan sekaligus founder Komunitas Green Solidarity. (Dok Pri)

SEMARANG, beritajateng.tv – Rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar di Kota Semarang pada tahun 2022. Adapun hal ini berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Adapun jumlahnya mencapai 71,99 persen atau setara dengan 872,47 ton sampah.

Theresia Tarigan, aktivis lingkungan sekaligus founder Komunitas Green Solidarity menyoroti pentingnya antisipasi dalam pengelolaan sampah rumah tangga di masa mendatang. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa tempat makan ataupun layanan antar makanan turut menjadi penyumbang tingginya sampah rumah tangga.

Menurutnya, tempat makan harus menghindari penggunaan styrofoam dan kemasan plastik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi beban pembuangan sampah ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang saat ini belum memiliki sistem pemrosesan yang memadai.

“Warga dan tempat makan harus benar-benar memikirkan sampahnya. Kadang berharap layanan antar tidak pakai streofom, kemasan plastik, untuk rumah tangga juga sampahnya mereka perhatikan betul,” katanya saat beritajateng.tv hubungi, Rabu 20 September 2023.

Lebih lanjut, Theresia menyebut mayoritas sampah warga masih terdistribusikan ke TPS. Padahal, beberapa sampah rumah tangga, menurut Theresia masih bisa warga olah kembali.

Oleh karena itu, ia mengusulkan pendirian TPS yang dapat mengolah sampah menjadi kompos dengan fasilitas pemilahan di tempat. Hal tersebut akan membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA sehingga menghindari penumpukan berlebihan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

BACA JUGA:2 TPA Kebakaran dalam Waktu Berdekatan, WALHI Jateng Soroti Tata Kelola Sampah di Jawa Tengah

“Diperlukan TPS yang bisa mengolah sampah menjadi kompos, ada proses pemilahan juga di situ.  Jadi tidak harus semua sampah diangkut ke TPA sehingga diharapkan tidak ada penumpukan lagi di TPA,” lanjutnya.

Batasi sampah rumah tangga

Di lain sisi, Theresia turut mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pemerintah untuk menerbitkan peraturan daerah (perda) yang mengatur produksi sampah keluarga dan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Ia mencontohkan Kota Zurich, Swiss yang memberlakukan pembatasan berat sampah per rumah tangga.

Bahkan, Swiss berencana untuk mengenakan pajak pada kemasan plastik untuk menekan produksi sampah di negara tersebut.

“Sekarang saatnya fokus yang mana 60 persen lebih data sampah organik yang masuk ke TPA itu adalah rumah tangga, pelaku UMKM, resto, hotel, itu yang harus ditekankan pendampingan,” jelasnya.

Namun, Theresia tidak hanya meminta pemerintah untuk bertindak. Bersama Komunitas Green Solidarity, Theresia telah memulai langkah-langkah nyata untuk mengurangi sampah di ranah warga.

BACA JUGA:DLH Kota Semarang Sediakan 3.400 Tempat Pilah Sampah

Di rumahnya sendiri, Theresia mengadakan program “Peduli Barang Bekas Botol Plastik.” Dalam program ini, warga di sekitar kediaman Theresia dapat menukarkan lima botol plastik dengan produk-produk ramah lingkungan seperti sabun cuci piring, eco enzyme, dan bibit tanaman.

Inisiatif semacam ini ia harap dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk mulai mengelola sampah rumah tangga dengan lebih baik.

“Saya berharap kedepannya kita mulai membuat sistem, bagaimana satu rumah tangga, per RT, RW, bisa mengolah sampahnya sendiri,” harapnya.(*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp