SEMARANG, beritajateng.tv — Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu mengimbau para pendaki untuk mewaspadai fenomena bediding yang mulai terjadi selama musim kemarau. Peringatan dini tersebut telah tersampaikan melalui situs dan akun resmi Balai TN Gunung Merbabu sebagai langkah antisipasi demi keselamatan para pendaki.
Bediding merupakan fenomena penurunan suhu udara secara drastis yang umumnya terjadi pada musim kemarau, terutama pada malam hingga dini hari. Kondisi ini menyebabkan udara terasa sangat dingin dan di sejumlah wilayah pegunungan dapat memicu munculnya embun beku atau yang masyarakat kenal sebagai bun upas.
Di kawasan Gunung Merbabu, fenomena ini tertandai dengan suhu udara yang dapat mencapai 5 derajat Celsius. Beserta potensi angin kencang dengan kecepatan 15 hingga 25 kilometer per jam. Karena itu, para pendaki di minta mempersiapkan perlengkapan yang memadai dan meningkatkan kewaspadaan selama berada di jalur pendakian maupun area perkemahan.
BACA JUGA: Kuota Pendakian Merbabu via Thekelan Sudah Penuh Hingga Malam Tahun Baru
Fenomena bediding juga terasa oleh warga yang bermukim di lereng Gunung Merbabu, wilayah Kabupaten Semarang. Salah satunya Purwanto, warga Dusun Ngaduman, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, yang berada pada ketinggian sekitar 1.700–1.800 meter di atas permukaan laut.
“Beberapa hari lalu suhu udara pada malam hari mencapai 8 derajat Celsius dan turun menjadi sekitar 6 derajat Celsius saat dini hari,” ungkap Purwanto melalui sambungan telepon, Sabtu, 13 Juni 2026.
Menurutnya, dalam dua hari terakhir suhu udara tidak terlalu dingin karena sempat muncul awan dan turun hujan ringan. Namun saat kondisi langit cerah tanpa awan, suhu dingin biasanya terasa lebih ekstrem.
“Bediding biasanya miliki tanda langit malam yang benar-benar cerah. Udara dingin sudah terasa sejak sore dan semakin malam suhunya terus turun. Puncaknya terjadi menjelang dini hari,” jelasnya.





