Gaya Hidup

Alasan Mengapa Orang Bisa jadi Pelaku Bullying, Emosi yang Terhambat Salah Satunya

×

Alasan Mengapa Orang Bisa jadi Pelaku Bullying, Emosi yang Terhambat Salah Satunya

Sebarkan artikel ini
perundungan
Ilustrasi bullying anak sekolah. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Perundungan atau bullying akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Kasus perundungan tak terjadi pada usia anak sekolah saja, namun bisa terjadi di lingkungan orang dewasa.

Salah satunya yang tengah menjadi sorotan, yakni kasus kematian dokter Aulia Risma Lestari. Mahasiswi PPDS Undip tersebut yang dugaannya mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri, lantaran tak kuat menahan perundungan oleh seniornya di lingkungan kampus dan RS.

Menanggapi hal itu, Psikolog asal Universitas Diponegoro (Undip), Amalia Rahmandani mengungkap alasan mengapa seseorang bisa melakukan bullying.

Amalia menuturkan, jejak seorang pelaku bullying atau perundungan bisa ditelusuri dari masa lalunya.

“Mereka yang rawan jadi pembully bisa jadi adalah korban bully, meskipun orang-orang yang pernah menjadi korban bully pun akan menjadi korban di waktu-waktu berikutnya,” ungkap Amalia saat beritajateng.tv hubungi Jumat, 20 September 2024.

BACA JUGA: Sebut Bullying PPDS Undip Bak Warisan, Anggota DPR RI: Hukuman Pelaku Jangan Lama-lama

Saat seseorang menjadi pelaku bullying, tutur Amalia, ada semacam kebutuhan untuk mengekspresikan emosinya ketika ia merasa tak mendapat pengakuan.

“Kalau di – bully kan orang itu merasa gak terakui, kenapa? Karena sekali lagi, dia diperlakukan sedemikian gak berharga. Sehingga ada kebutuhan untuk diakui. Kebutuhan untuk diakui itu bisa termanifestasi dalam perilaku bullying,” sambung Amalia.

Selain itu, seseorang yang merundung atau melakukan bullying bisa saja mengalami penghambatan emosi.

“Jika di dalam keluarga dia tak bisa menyalurkan emosi negatifnya, orang tuanya tidak bertanya ‘kamu kenapa?’ dan tidak ada teman cerita, maka yang terjadi itu hambatan emosi,” ungkapnya.

Seseorang yang emosinya terhambat, kata dia, bisa mengeluarkan emosi secara meledak-ledak. Yang mana, emosi itu bisa tersalurkan ke luar, dengan cara melakukan perundungan terhadap orang lainnya.

“Kalau semakin intens bisa sampai pada perilaku merugikan orang lain, karena gak ada yang memfasilitasi emosinya itu tadi. Dia akan berpikir bagaimana dapat terakui kalau tidak melakukan cara-cara yang menyakiti orang lain,” papar dia.

Seorang pelaku bullying, tutur Amalia, berpikir bahwa ketika ia bisa membuat orang lain merasa rendah atau tersakiti, maka mereka akan merasa lebih dari orang tersebut.

“Nah, pride atau rasa seperti itu, seolah-olah dia lebih daripada yang lain di dapatkan dari situ. Dari mana? Kebutuhan itu dari dulu, ketika dia pernah merasakan betapa tidak menyenangkannya menjadi orang yang kurang terhargai,” tandas Amalia.

BACA JUGA: Menkes Budi Bongkar Perundungan di Dunia Kedokteran: Ada Dokter Mukul Pasien

Meskipun orang tua sudah mencukupi kebutuhan anaknya secara materiil, Amalia mengungkap kemungkinan anak itu untuk melakukan perundungan juga masih ada.

“Katakanlah orang tuanya terlihat sayang dan selalu memenuhi kebutuhannya, tapi gak pernah ada komunikasi terbuka antara orang tua dengan anak, itu bisa jadi bom waktu sebetulnya,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp