Kendati demikian, Agus mengingatkan bahwa secara alamiah tidak ada sumber energi yang benar-benar abadi.
“Di dunia ini tidak ada yang abadi. Gas itu sumber energi yang tidak terbarukan; kalau dimanfaatkan terus-menerus, seperti tambang atau minyak, ya lama-lama habis,” ucapnya.
Pernah Padam 2020 Silam, Api Abadi Mrapen Sempat Jalani Restorasi
Agus membenarkan, padamnya Api Abadi Mrapen bukan kali pertama terjadi. Peristiwa serupa pernah terjadi sekitar tahun 2020, atau hampir lima tahun lalu.
“Pernah terjadi juga sebelumnya, lalu kami restorasi sumbernya. Itu sekitar tahun 2020,” katanya.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa sumber gas Api Abadi Mrapen memerlukan perawatan dan pemantauan secara berkala.
Ia menjelaskan, pada kejadian sebelumnya, permasalahan utama berada pada jalur rekahan gas yang mengalami gangguan akibat proses alam.
BACA JUGA: Selain Pemandian Alam, Berikut 5 Destinasi Wisata Purwodadi Terunik 2024
“Sebetulnya harus ada maintenance terhadap sumber gas itu. Jalur yang dilalui lewat rekahan-rekahan itu tertutup karena pelapukan kimia dan fisika. Salurannya mengecil, ditambah potensi tekanan gas dari sumbernya juga menurun,” jelas Agus.
Saat ini, ESDM masih melakukan investigasi untuk memastikan apakah sumber gas yang ada masih memungkinkan untuk dipelihara agar api dapat kembali menyala.
“Kita lihat dulu apakah sumber potensinya masih memungkinkan untuk maintain supaya bisa nyala lagi,” kata Agus.
Agus Beberkan Penjelasan Ilmiah Api Abadi Mrapen, Berasal dari Reservoir Gas
Menanggapi cerita rakyat yang menyebut Api Abadi Mrapen berasal dari tongkat Sunan Kalijaga, Agus menjelaskan secara ilmiah fenomena tersebut berasal dari gas alam.
“Kalau secara ilmiah, gampangannya sama seperti mata air. Kalau air ada akuifer, kalau migas itu ada reservoir,” terangnya.
Ia menjelaskan, terdapat reservoir gas di bawah permukaan tanah yang gasnya keluar melalui rekahan atau struktur geologi tertentu. “Gas keluar lewat crack atau rekahan-rekahan struktur yang berkembang di situ,” katanya.





