“Kita main elegan, kita surati berjenjang. Mulai dari PT GMM, Pembkab, Provinsi ditembuskan ke Bulog dan Pak Prabowo, nanti beliau akan membantu. Karena pak Prabowo itu sejak dulu memperhatikan nasib petani,” jelas Lie Kamadjaja.
Lie Kamadjaja meyakinkan kepada APTRI bahwa ia akan memulai membangun pabrik gula di wilayah Rembang. Tepatnya di Kecamatan Sulang dengan kapasitas giling 3000 ton/ hari.
Menurutnya, di tahun 2026, targetnya pabrik gula sudah berdiri. Lie Kamadjaja mulai sekarang akan menggandeng petani tebu di Rembang dan Blora.
“Saya akan memanggil pengusaha kaya di Jakarta, untuk menjadi bapak angkat untuk petani tebu di Blora. Mulai sekarang kita akan tanam tebu sebanyak-banyaknya, agar nanti begitu pabrik berdiri bisa giling secara kontinu (berkelanjutan)”, ungkapnya.
BACA JUGA: Mantan Presdir Pabrik Gula PT GMM Gelar Temu Kangen Petani Tebu di Blora, Lie Kamadjaja : Politik Mengalir Saja
Lie Kamadjaja menambahkan, bahwa ia berjanji akan membantu perjuangan APTRI, namun dengan caranya sendiri.
Terpisah PT GMM Tinapan, Todanan, Blora sudah memberikan tanggapan melalui surat nomor 151/BLR- DO/LT-LT-APTRI/V/2024 tertanggal 20 Mei 2024 terkait harga tebu, yang ditanda tangani Sri Emilia Mudiyanti selaku Direktur.
Per 20 Mei 2024 pukul 15 .00 Wib. telah menaikkan harga tebu untuk wilayah Blora Rp 72.000/ku dan untuk yang di luar Blora Rp 74.000/ku.
Dengan ketentuan “tebu harus manis, bersih dan segar (MBS)”. Ketentuan ini masih berlaku dan harganya akan mengikuti dengan kualitas tebu, karena saat ini tebu MBS sudah mulai berkurang.
Seperti yang Direktur operasional sampaikan sebelumnya, bahwa PT GMM akan menaikkan harga tebu bagi petani secara berkala. Hal ini pun berdasarkan kualitas tebu petani yang dikirim ke PT GMM.
“Saat ini PG lain belum buka giling sedangkan PT GMM sudah buka untuk kegiatan giling, kami punya skema kenaikan harga tebu berkala untuk musim giling tahun ini” ungkap Krisna Murtiyanto.





