“Saya enggak terlalu memperhatikan kalau anak saya itu seolah-olah ada masalah sana. Mulai 2024 setelah lulus, dia cerita sama ibunya kalau kiai memperlakukannya seperti itu selama mondok,” ungkapnya.
Ayah Korban Mengaku Pernah Percaya dan Ikut Bantu Bangun Pondok
Lebih jauh, H mengatakan dirinya telah mengenal Ashari sejak sebelum pondok pesantren tersebut berdiri sekitar 2015 atau 2016. Menurutnya, saat itu Ashari belum memiliki pondok pesantren dan baru mulai membangun yayasan pendidikan.
“Sebelum anak saya masuk sana, saya sudah kenal sama pak kiai tadi. Waktu itu belum ada pondoknya,” ujarnya.
BACA JUGA: PWNU Jateng Tegaskan Pelaku Pencabulan Ponpes Pati Bukan Kiai NU, Gus Rozin: Dia Tabib Dukun
Lantaran percaya pada sosok Ashari, H kemudian menyekolahkan empat anaknya ke pondok tersebut. Ia bahkan mengaku sempat ikut membantu proses pembangunan pondok pesantren tersebut.
“Empat anak saya semuanya sekolah area situ. Saya juga termasuk ikut bantu bangun bangunan sana,” ujar H.
Namun setelah mendengar langsung cerita anaknya dan mencocokkan informasi dengan sejumlah santri lain, ia mulai merasakan kejanggalan terhadap perilaku Ashari.
“Saya cocokkan sama teman-teman pondok dan sekolah, ternyata enggak cocok dengan apa yang oknum tadi katakan,” jelasnya.
Saat ini, H sudah memindahkan dua anaknya yang masih sekolah dari pondok tersebut sejak 2024.
“Yang masih sekolah sekarang dua, tapi sudah enggak ada sana. Saya sudah memindahkan mereka ke sekolah lain,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





