Joselin (33) ialah salah seorang pedagang pakaian pesta pernikahan di Pasar Tanah Abang. Ia mengaku turut menawarkan dan menjual barang dagangannya secara daring. Namun, ia tetap tidak bisa bersaing dengan para pemengaruh yang berjualan barang impor.
“Kami kalah dengan artis-artis. Kami coba online dan live, tetapi tetap tidak ada yang beli. Jadi tolong atur yang ketat syarat-syarat berdagang online,” kata Joselin.
BACA JUGA: Tips Jadi Content Creator TikTok untuk Pemula, Kuncinya adalah Konsisten!
Pedagang keluhkan sepi pembeli
Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, mengaku cukup banyak mendapatkan keluhan mengenai sepinya pembeli di Pasar Tanah Abang yang terpicu maraknya aktivitas jual beli di platform social commerce. Aktivitas ini melibatkan banyak artis dan pegiat media sosial.
Promosi oleh artis atau pemengaruh menyebabkan pembeli lebih berminat dengan barang tersebut ketimbang barang dagangan UMKM Pasar Tanah Abang.
Dampak lain dari sepinya pembeli di Tanah Abang pun tak hanya pedagang alami. Sektor lain pun merasakan, misalnya, para porter atau jasa angkut barang.
Para jasa angkut barang tersebut biasanya bisa memberikan jasa hingga 20 kali pengangkutan barang. Kini, sama sekali tak mendapatkan uang dari jasa pengangkutan barang dalam satu hari pun sudah menjadi kebiasaan karena sepinya pembeli.
Dari sisi pembeli, Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menuturkan daya beli masyarakat bisa ditingkatkan sebagai solusi alternatif dalam mendorong agar Pasar Tanah Abang kembali ramai.
Langkah tersebut bisa pemerintah lakukan, salah satunya dengan memberikan bantuan sosial tertentu untuk pembelian barang di Pasar Tanah Abang. Apabila masyarakat mendapatkan tambahan dana, maka peluang untuk membeli barang di Pasar Tanah Abang menjadi lebih besar.
Selain itu, perlu perhatikan pula faktor-faktor yang bisa mempengaruhi konsumsi masyarakat, termasuk harga-harga kebutuhan pokok.





