Catatan Editor

Bayang-bayang Depopulasi yang Mengancam Indonesia, Penyebabnya Karena Childfree?

×

Bayang-bayang Depopulasi yang Mengancam Indonesia, Penyebabnya Karena Childfree?

Sebarkan artikel ini
farah nazila
Farah Nazila. (Dokumen Pribadi)

Meski Indonesia saat ini masih tergolong ‘aman’. Namun, fenomena depopulasi ini menjadi sebuah isu menarik di kalangan masyarakat. Salah satu hal yang disoroti adalah tren pernikahan yang semakin turun di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebutkan, pada 2023 jumlah pernikahan hanya mencapai 1,58 juta pasangan. Angka ini turun 7,51% atau sebanyak 128.000 dibanding 2022 (year-on-year) yang mencapai 1,71 juta pasangan. Penurunan ini bahkan sudah berlangsung secara konsisten selama lima tahun terakhir.

Dari data yang bertebaran di internet tentang adanya tren penurunan angka pernikahan di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya ini tentunya memantik rasa penasaran masyarakat.

‘Apa sih penyebabnya?’

‘Kenapa kok bisa begitu?’

‘Bukannya menikah itu enak ya, kok pada ga mau?’

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab netizen lain dengan enteng; ‘Karena cewe-cewe pada milih childfree, lah,’

Ya, childfree. Istilah tersebut sempat viral pada awal tahun 2023 lalu karena kontroversi content creator Gita Savitri yang menyebut childfree sebagai cara alami untuk awet muda.

Childfree sendiri merupakan kondisi seseorang maupun pasangan yang memilih untuk tidak memiliki keturunan atau anak. Konsep ini bukanlah pertama kali yang lagi nge-tren di Indonesia, sudah banyak diterapkan di negara-negara maju, seperti Jepang dan Jerman. Sifat dari childfree ini pun sukarela atau pilihan, dan tentunya personal. Jadi, untuk mengambil keputusan ini, pastinya perlu ada pertimbangan-pertimbangan dan resiko tertentu.

BACA JUGA: Tetap Sakral Meski Internasional, Prosesi Pernikahan Adat Jawa Modern Ngetren Lagi

Saya menemukan banyak orang yang enteng menyebut penyebab dari depopulasi ini karena wanita atau pasangan yang childfree. Padahal, tidak ada korelasi antara depopulasi dengan pilihan orang untuk tidak memiliki anak. Permasalahan soal depopulasi ini tak semena-mena tentang pilihan manusianya, tetapi lebih kompleks dari itu.