Salah satunya pengajian, yang dilaksanakan secara sederhana, dengan menampilkan seorang penceramah, yang lokasinya berada di tempat terbuka.
Dalam perkembangan, kegiatan pengajian dipindahkan ke serambi Masjid Al Muttaqin Kaliwungu dan tidak lagi di komplek makam.
“Selain acara tahlil dan pengajian, juga ada acara sama’an dan khataman Alquran. Acara lain yang lebih menarik dan menyedot perhatian masyarakat kaliwungu adalah acara pembukaan yang dilakukan di halaman Masjid Al Muttaqin Kaliwungu,” imbuh Gus Tommy.
Dirinya juga menambahkan, perayaan Syawalan di Kaliwungu tidak lagi sebatas perayaan khoul Kyai Guru dengan melakukan tahlil di makam KH Asy’Ari saja, melainkan sudah melebar ke makam kiai-kiai lain serta tokoh-tokoh sejarah lain seperti Sunan Katong, Pangeran Mandororejo, Pakuwojo bahkan sampai ke kompleks makam bupati Kaliwungu.
Selain itu pada era modern Syawalan beralih menjadi sebuah pasar malam. Upacara tradisii ini sekarang tidak lagi milik masyarakat Kaliwungu tetapi sudah menjadi milik umum.
Bahkan tradisi Syawalan juga menjadi berkah tersendiri para pedagang musiman di sepanjang jalan utama Kaliwungu sepankang dua kilometer.
Pedagang yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan juga dari Jawa Barat tersebut, menjajalan berbagai produk, seperti aneka bunga hias, guci, mainan anak-anak, hingga maianan yang terbuat dari gerabah. (Ak/El)





