SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa perusahaan besar di dunia, khususnya yang menyatakan dukungan terhadap Israel, tengah menghadapi penurunan harga saham yang siginifikan. Pasalnya, aksi boikot Israel oleh negara berpenduduk mayoritas muslim sedang berjalan masif.
Adapun gerakan boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang mendukung pendudukan Israel ini telah berdampak negatif pada harga saham beberapa perusahaan besar di Wall Street. Mengutip laman IDX Channel, salah satu perusahaan yang terdampak yakni PepsiCo.
Perusahaan yang merupakan rumah bagi merek seperti Pepsi, Chipsy, Dunkin’ Donuts, dan lainnya itu, kabarnya, sahamnya turun ke level terendah sejak November 2021 pada 12 Oktober, yakni mencapai 157,9 dolar AS per saham. Sebelumnya, saham Pepsi masih diperdagangkan 164,3 dolar AS per saham per 10 Oktober.
Menanggapi tren penurunan saham ini, pengamat ekonomi sekaligus dosen Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) Wahyu Widodo menyebut saham merupakan instrumen yang sifatnya liquid dan bergerak dengan cepat.
“Yang menarik kalau melihat pegerakan saham atau indikator yang sifatnya ada di pasar finansial, itu sangat mudah bergerak dan liquid banget,” ujar Wahyu melalui sambungan WhatsApp, Selasa, 31 Oktober 2023.
Konflik Israel-Palestina ini bagi Wahyu menimbulkan risiko yang lebih tinggi. Sehingga, lanjut Wahyu, pemegang saham akan memilih jalan yang aman.
Hal itu kemudian berdampak pada anjloknya harga saham, khususnya pada perusahaan besar yang secara terang-terangan mendeklarasikan dukungannya terhadap Israel.
“Kita akan lihat seberapa lama konflik ini terjadi, saya kira kalau ini berkepanjangan dan reaksinya semakin masif, dampaknya ke perusahaan ini semakin serius. Paling tidak indikasinya dari harga saham,” bebernya.
BACA JUGA: Serangan ke Gaza Memanas, Ini 7 Produk Besar Israel yang Terboikot dan Alasannya
Aksi boikot Israel sebagai reaksi moral masyarakat Indonesia
Wahyu menilai, aksi boikot yang kini juga berlangsung di Indonesia ini sebagai reaksi moral masyarakat terhadap tindakan Israel. Terlebih, menurutnya serangan Israel ke Palestina saat ini lebih masif daripada sebelumnya.
“Itu kelihatan reaksi masyarakat dunia, yang kalau dari kacamata orang awam ya kita berharap ini dapat memberi tekanan psikologis, meskipun dari sisi international policy kita tidak mempunyai apa-apa karena ini hanya gerakan moral,” ujar Wahyu.
Mengenai dampak, gerakan boikot ini tidak akan menimbulkan efek sebesar krisis finansial yang terjadi di sebuah perusahaan.
“Ini sifatnya sangat selektif kepada perusahaan yang terafiliasi atau declare secara langsung, tapi akan kita lihat seberapa lama konstelasinya, kalau memburuk dan semakin besar. Saya kira akan berdampak serius terhadap indikator pasar keuangan di domestik,” ujarnya.
Menilik alasan perusahaan besar menyatakan deklarasi dukungan terhadap Israel
Terkait alasan mengapa beberapa perusahaan besar internasional memilih lakukan deklarasi dukungan terhadap Israel, Wahyu mengungkap adanya pertimbangan oleh internal.
“Di kaca mata orang awam berisiko, tapi itu adalah bagian internal menejemen yang bertolak belakang dengan cara pandang mereka (orang awam). Kalau berani declare berarti sudah mempetimbangkan risiko,” tandasnya.
Sebagai informasi, perusahaan lainnya seperti Walt Disney juga turut terdampak. IDX Channel melansir, saham perusahaan itu turun 0,59 persen pada 12 Oktober, mencapai 83,1 dolar AS per saham.
Begitu juga dengan saham McDonald‘s telah jatuh ke level terendah sejak 27 Oktober 2022. Adapun nilainya mencapai rekor terendah 245,5 dolar AS per saham pada 12 Oktober dan terus menurun hingga sesi perdagangan hari selanjutnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





